persepsi

Jakarta, LiputanIslam.com – Salah satu cara mencegah paham Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) berkembang dalam masyarakat terutama pada pemuda di Indonesia, ialah memastikan tak ada unsur kekerasan dalam kurikulum di sekolah, kata Mantan Wakil Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar.

“Kurikulum di sekolah jangan sampai kesusupan soal kekerasan. Pihak Kemenag sejak beberapa waktu lalu sudah menelusuri tak boleh ada bentuk kekerasan dalam buku-buku sekolah, ” ujar Nasaruddin di sela penyelenggaraan Islamic Book Fair (IBF), di Jakarta, seperti dilansir dari AntaraNews.

Kemudian, lanjut Nasaruddin, para ulama juga perlu mengingatkan kalau Islam mengajarkan kedamaian, cinta, bukan kebencian.

“Harus memastikan, jangan sampai ada ajaran kebencian pada paham yang berbeda,” kata dia.

Di samping itu, lanjut Nasaruddin, pemerintah juga diharapkan tak membuat produk-produk yang memicu radikalisme masyarakat Islam di Indonesia.

“Pemerintah jangan membuat produk-produk yang mengundang radikalisme, misalnya legitimasi pornografi dan perjudian. Kalau hal ini sampai terjadi, maka bisa mengundang radikalisme, karena bertentangan dengan Islam,” kata Nasaruddin.

Masih dalam topik yang sama tentang ISIS, ada dugaan 16 WNI yang hilang di Turki berkaitan dengan ISIS. Beberapa menduga bahwa 16 WNI yang hilang tersebut telah bergabung bersama ISIS.

Namun, Wakil Presiden Jusuf Kalla merasa tidak yakin 16 warga Negara Indonesia, yang dikabarkan hilang di Turki beberapa waktu lalu, bergabung dengan kelompok militan gerakan Islam radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

“Saya tidak yakin mereka masuk ISIS, masa membawa anak dan istri, yang benar saja. Pasti bukan itu, mungkin mereka sedang di tempat lain saja,” kata Wapres.

Dia juga meminta jajarannya, dalam hal ini Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kementerian Luar Negeri, untuk mencari informasi lengkap terhadap 16 orang itu.

Terkait dugaan sebab hilangnya WNI tersebut karena tergabung dengan kelompok ISIS, Wapres mengatakan Pemerintah Indonesia dengan tegas menolak gerakan itu.

“Namanya dugaan kita tidak bisa, belum bisa mengomentari dugaan itu. Kan belum tentu hilang, bisa saja mereka tur ke mana,” tambahnya. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*