cak nunTemanggung, LiputanIslam.com — Keberadaan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang telah menebarkan teror di Timur Tengah, dan menggaet para jihadis dari berbagai negara, termasuk Indonesia, turut menjadi perhatian dari Kyai M.H Ainun Najib, ulama terkemuka yang biasa disapa Cak Nun ini.

Sebelum acara “Sinau Kedaulatan Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng” yang diselenggarakan Pemkab Temanggung bersama Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Temanggung, ia menyampaikan wartawan bahwa ISIS merupakan rekayasa dari pihak tertentu yang hendak menguasai Timur Tengah.

“Semua itu rekayasa, ada yang membikin dan tidak mungkin gerakan itu menjadi mainstream, karena apa mungkin orang sedunia menjadi ISIS semua,” ujarnya, seperti dilansir Antara, 4 April 2015.

Ironisnya, selama ini ISIS selalu mengkalim diri sebagai representasi Islam, menegakkan tauhid dan mengamalkan sunnah. Namun kenyataannya, ISIS malah membunuhi kaum Muslimin.

“Yang mereka mereka bunuh itu sesama orang Islam. Gerakan itu merupakan program permanen memecah belah Timur Tengah atau memecah belah Islam sehingga Islampun rapuh,” katanya.

“Kalau sudah rapuh, maka diambil minyaknya seperti Irak. Suriah ini sulit diambil maka dibuatlah ISIS, jadi itu hanya orang merampok, sama dengan Indonesia hanya dirampok,” tegas Cak Nun lagi.

Saat ini Indonesia tengah siaga ISIS, dan berbagai elemen masyarakat turut mengambil peran dalam mencegah semakin menjamurnya ideologi transnasional yang berbahaya ini. Apalagi, ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) telah turut bergabung dengan ISIS.

Menurut laporan PBB, saat ini lebih dari 25.000 pejihad asing telah melebur dengan kelompok-kelompok teroris ISIS, maupun kelompok Al-Qaeda dan affiliasinya. Angka ini disebut-sebut sebagai jumlah terbesar aliran jihadis yang ada sepanjang sejarah. Mereka bergabung dengan kelompok-kelompok teror di Irak, Suriah dan Libya. Kondisi ini merupakan ancaman serius bagi keamanan global. Apa yang akan terjadi jika anggota kelompok ini kembali ke negara asalnya masing-masing?

Laporan tersebut menambahkan bahwa sejumlah besar jihadis asing berasal dari Tunisia, Maroko, Perancis dan Rusia. Terjadi juga peningkatan drastis para jihadis yang berasal dari Maladewa, Trinidad dan Tobago dan bahkan Finlandia. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL