Sumber: sukabumiupdate.com

Yogyakarta, LiputanIslam.com– Anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila, Ahmad Syafii Maarif menjelaskan bagaimana paham radikal saat ini semakin berkembang di tanah air. Menurut Buya Syafii, tercapainya sila kelima Pancasila merupakan kunci keberhasilan menangkal berbagai ideologi impor, termasuk radikalisme.

“Ideologi impor dengan teologi mautnya sesungguhnya tidak mempan hidup di Indonesia asal sila kelima (Pancasila) betul-betul diwujudkan,” katanya dalam seminar ‘Pancasila dan Kebhinekaan’ di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pada Senin (6/11).

Menurut Buya Syafii, pemerintahan Presiden Jokowi harus mampu mengoptimalkan implementasi seluruh sila dalam Pancasila. Sila pertama misalnya, baru memiliki makna apabila sila kelima yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” itu menjadi kenyataan. “Pancasila jangan hanya retorika,” ucapnya.

Ia menjelaskan, jika sila kelima Pancasila dapat diwujudkan, maka ketimpangan sosial dan ekonomi bisa dihilangkan. Dengan demikian, kehadiran ideologi-ideologi impor yang mengancam Pancasila dan kebhinekaan tidak akan bertahan lama di Indonesia.

Oleh karena itu, Buya Syafii menegaskan pentingnya mewujudkan nilai-nilai Pancasila, terutama sila kelima. “Jangan lagi Pancasila sila kelima tergantung di awan tinggi, sedangkan rakyat di bumi terkapar. Itu tidak boleh,” tegasnya.

Buya Syafii menambahkan, ketimpangan itu masih ada di Indonesia yang ditunjukkan dengan masih tingginya jumlah desa tertinggal. Sesuai data dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) saat ini, sekitar 60% dari 74.910 desa masuk kategori tertinggal dan sangat tertinggal.

“Belum lagi penguasaan tanah di Indonesia yang 80% dikuasai oleh konglomerat domestik dan 13% konglomerat luar,” ujarnya prihatin. (Ar/Tempo/Media Indonesia).

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL