Sumber: jawapos.com

Yogyakarta, LiputanIslam.com– Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) Ahmad Syafii Maarif menyatakan bahwa persyarikatan Muhammadiyah butuh gerakan ilmu. Ia menilai peran Muhammadiyah selama ini dalam bidang gerakan sosial, kesehatan, dan pendidikan sudah sangat baik. Hanya saja, Muhammadiyah butuh langkah yang lebih maju yakni membumikan gerakan ilmu.

“Selain gerakan sosial, pendidikan dan kesehatan, Muhammadiyah juga butuh gerakan ilmu. Dalam gerakan sosial, Muhammadiyah sudah sangat membumi,” ujarnya saat menerima kunjungan perwakilan organisasi kepemudaan dari Malaysia, di kantor redaksi Suara Muhammadiyah,Yogyakarta, seperti dilansir suaramuhammadiyah.id, pada Senin (7/8).

Buya Syafii menilai, Muhammadiyah masih perlu meningkatkan kerja-kerja intelektualitas. Para kader Muhammadiyah harus mampu mengemban tugas kecendekiawanan. Juga dituntut hadir mengambil peran dalam upaya menyelesaikan berbagai persoalan bangsa sekarang ini.

Menurut Buya Syafii, modal besar Muhammadiyah sebagai gerakan sosial yang memiliki struktur dan amal usaha dari pusat hingga ke cabang dan ranting, perlu untuk diberdayakan sebagai gerakan keilmuan. Gerakan ilmu sangat penting dengan beberapa alasan. Pertama, kondisi dunia Arab yang sedang jatuh. Kedua, keadaan Indonesia yang tidak kunjung membaik. Ketiga, pengaruh misguided Arabism. “Ini persoalan besar,” ucapnya.

Ketidakhadiran ilmu menyebabkan  munculnya sikap fanatik. Pemahaman orang untuk selalu menganggap bahwa Islam selalu identik dengan Arab adalah juga karena kurang ilmu. Sehingga mereka menganggap perbuatan sebagian Arab sebagai representasi dari Islam. Puncaknya, adalah kemunculan ISIS hingga Boko Haram. “Saya tidak anti Arab. Arab yang bagus-bagus juga banyak,” ungkap Buya

Buya juga mengajak para intelektual Muhammadiyah untuk berani melakukan pembaharuan sebagaimana semangat tajdid yang diusung Muhammadiyah. “Kita perlu rethinking. Perlu penafsiran ulang. Al-Qur’an itu hudan linnas, hudan lil muttaqin (petunjuk bagi seluruh manusia, bagi orang-orang yang bertakwa). Itu sebagai moral,” tuturnya.

Ia menjelaskan, sebagai petunjuk bagi seluruh manusia, maka Al-Qur’an bukan hanya berhak ditafsirkan oleh orang Arab. Tapi juga oleh semua manusia di berbagai belahan dunia. Termasuk di dunia Melayu dan Indonesia. Bagi intelektual di dunia Melayu, dibutuhkan kesungguhan mendalami paham dan pemikiran keislaman. Buya mengumpamakan, ‘jika ingin mendapatkan hasil, harus menyelam ke dasar lautan, bukan  hanya berenang di permukaan.’ Dilandasi dengan penguasaan bahasa Arab dan turas (tradisi pemikiran Islam tradisional) yang kuat dan kemudian dipadukan dengan tajdid. (Ar/Suara Muhammadiyah).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL