Sumber: nu.or.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Budayawan Ahmad Tohari menyatakan bahwa kebebasan berekspresi di Indonesia dibatasi oleh Pancasila, sehingga kebebasan ekpresi termasuk ekspresi seni jangan sampai melanggar nilai-nilai Pancasila. Berekspresi harus memperhatikan nilai-nilai Pancasila. Hal itu ia sampaikan menanggapi tindakan Sukmawati Soekranoputri atas karya puisi berjudul Ibu Indonesia yang menuai kontroversi dan berujung permintaan maaf Sukmawati kepada umat Islam.

“Betapapun kita masih mengakui Pancasila. Aspek Ketuhanan Yang Maha Esa ini jangan diabaikan,” ujar Ahmad Tohari, seperti dilansir NU Online Jakarta, pada Kamis (5/4).

Menurutnya, berekspresi di Indonesia berbeda dengan di negara lain, seperti di Jerman. Tohari memberikan contoh satu kasus di Jerman pada tahun 1995, di mana seorang seniman lukis membuat iklan rokok dengan melukis biarawati yang berpenampilan tidak sopan. Atas iklan tersebut, sebagian umat Kristiani yang keberatan lalu mengajukan ke pengadilan.

“Anehnya setelah persidangan, pelukis itu yang memenangkan. Karena berdasarkan kebebasan berekpresi di Jerman ditambah menurut hakim dari segi hukum eksistensi Yesus tidak ada, seniman itu malah yang menang. Persoalannya, apakah sama antara di Jerman dengan Indonesia?” ungkapnya.

Ia menjelaskan, hal itu bisa terjadi karena kebabasan ekpresi di Jerman didukung falsafah humanisme dan sekulerisme. Sementara Indonesia mengakui falsafah Pancasila. “Dalam berkarya kebebasan ekspresi kita jangan sampai melanggar Pancasila,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Tohari juga mengingatkan bahwa sebagai sesama seniman dalam berkarya mestinya mempertimbangkan apakah suatu karya akan melukai pihak lain atau tidak. “Kalau diperhitungan melukai pihak lain lebih baik tidak dikeluarkan,” ucapnya. (ar/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*