BNPTJakarta, LiputanIslam.com— Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas Muslim yang terbesar di dunia, dan saat ini, menjadi target empuk dari upaya perekrutan untuk bergabung dengan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Baru-baru ini, 16 Warga Negara Indonesia (WNI) hilang di Turki saat melakukan perjalanan umroh bersama salah satu travel, kendati tak lama berselang, mereka di temukan di perbatasan Suriah. Aparat keamanan Turki telah menahan 16 yang mencoba menyeberang ke Suriah itu Ke-16 WNI tersebut terdiri dari tiga keluarga. Rute yang mereka tempuh untuk menuju Suriah biasa digunakan para simpatisan kelompok ISIS.

Apa sebenarnya faktor yang menyebabkan ISIS tertarik merekrut WNI sebagai anggotanya?

Pengamat intelijen Wawan H Purwanto menduga faktor agama hingga ekonomi yang membuat ISIS menargetkan WNI untuk ikut berjihad ke Timur Tengah. Wawan menjelaskan, ISIS sudah sejak lama melihat Indonesia sebagai sasaran empuk. Banyaknya warga Indonesia yang salah mengartikan ajaran Islam, akhirnya terjerembab.

“Meskipun mayoritas masyarakat Indonesia menganut ajaran Islam moderat, ahlussunnah wal jamaah, tapi banyak relawan yang datang kesini dan mengajak mereka. Sehingga potensi besar yang ada di masyarakat Indonesia menjadi tujuan mereka,” kata Wawan seperti dilansir Kompas, Jumat (13/3/2015).

Biasanya, lanjut Wawan, ISIS juga mengandalkan jaringan kekerabatan untuk merekrut relawannya. ISIS akan merekrut terlebih dahulu seorang yang memilki relasi dan jaringan luas. Nantinya, orang itu lah yang akan mengajak jaringannya bergabung. Dengan begitu, tak akan terlalu sulit untuk menjaring relawan-relawan yang siap untuk bertempur.

“Biasanya dari pertemanan, saudara-saudara dekat. Atau dari afliasi, tokoh satu pemikiran yang memiliki pemahaman pemahaman jihad yang sama,” ujar Wawan.

Kondisi ini, kata dia, diperburuk dengan keadaan ekonomi Indonesia yang kurang memadai. Masih banyaknya warga yang berada dibawah garis kemiskinan langsung tergiur ketika ditawari uang dan harta berlimpah.

“Memang masalah gaji ini juga menjadi persoalan serius,” ujarnya.

BNPT: ISIS Imingi Gaji 150 Juta Perbulan

Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Inspektur Jenderal Arief Dharmawan menyatakan faktor jihad atau ikut berperang bukanlah satu-satunya motif WNI untuk bergabung dengan ISIS. Faktor lainnya yang tak kalah penting adalah materi.

Arief mengatakan ISIS telah menguasai sejumlah kilang minyak yang berada di Suriah dan Irak. Walhasil, ISIS bisa menggunakan minyak sebagai modal aksi mereka. Bukan cuma tentara perang, ISIS bisa menggaji orang-orang yang bersedia bekerja untuk mereka. “Bisa bekerja di dapur umum atau pekerjaan lain yang mendukung upaya perang mereka,” kata Arief.

Untuk pekerjaan tersebut, kata Arief, ISIS bisa memberikan gaji US$ 2.000-3.000 per pekan atau setara Rp 25 juta-39 juta dalam kurs saat ini. Jika dihitung-hitung, hampir tiap bulan mereka bisa mengantongi duit US$ 8.000-12.000 atau setara Rp 100 juta-Rp 150 juta. “Iming-iming uang ini juga menarik orang-orang Australia, Belanda, dan negara Eropa lain bergabung dengan ISIS,” kata Arief. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*