menteri-susi-ipb-1Bogor, LiputanIslam.com–Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mematahkan argumen dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor, Roza Yusfiandayani, dalam sesi tanya jawab kuliah umum tentang perikanan di Indonesia. Keduanya berbeda pendapat mengenai dampak penggunaan rumpon bagi lingkungan.

Dalam acara yang diselenggarakan di Auditorium Andi Hakim Nasution pada 13 Oktober itu, Roza meminta Susi untuk tidak melarang penggunaan rumpon karena tak memengaruhi kerusakan ekologi.

“Saya mohon maaf sebelumnya Bu Menteri, kalau bisa kebijakan itu (pelarangan rumpon) dikaji ulang,” kata Roza.

Roza mengaku telah lama meneliti penggunaan rumpon dan menjadikannya bahan penelitian desertasi dalam memperoleh gelar doktor. Ia juga mengaku telah membaca belasan jurnal ilmiah tentang rumpon yang disusun para peneliti selama 25 tahun sejak 1969.

Menurutnya, dalam jurnal-jurnal ilmiah itu dirinya tidak menemukan korelasi antara dampak ekologi dengan penanaman rumpon. Malahan, Roza berpendapat penggunaan rumpon efektif untuk mendapatkan ikan.

Menteri Susi tampak serius menanggapi permintaan Roza. Ia mengubah posisi duduknya dari bersadar di kursi menjadi lebih ke depan dan menjawab pertanyaan Roza dengan nada yang cukup tinggi.

“Tidak bisa dibilang tidak mempengaruhi ekologi, itu pasti mempengaruhi ekologi,” tutur Susi memulai jawaban.

Penggunaan rumpon, kata Susi, jelas memperngaruhi perilaku ikan. Ikan tidak menyebar ke pesisir pantai dan hanya berkumpul serta bereproduksi di sekitaran rumpon. Hal ini membuat rumpon tidak hanya berdampak terhadap ekologi laut, namun juga merugikan nelayan-nelayan kecil yang tidak mempunyai rumpon yang hanya melaut di jarak dekat.

Saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan telah membongkar rumpon-rumpon milik eks kapal asing yang berada di tengah laut. Rumpon-rumpon milik nelayan lokal belum dicabut, meskipun keberadaanya tetap dilarang.

Susi mengatakan manfaat pencabutan rumpon dapat dirasakan di daerah kelahirannya di Pangandaran. Nelayan di Pangandaran mulai bisa menangkap ikan teri lagi yang selama 15 tahun terakhir tidak ditemukan.

“Saya bukan ilmuan, bukan peneliti. Tapi saya sehari-hari hidup di laut,” kata Susi yang disambut riuh tepuk tangan peserta kuliah umum. (ra/metrotvnews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL