Sumber: nu.or.id

Jakarta, Liputanislam.com– Peneliti dari Institut de Recherche, Religions, Spiritualités, Cultures, Sociétés (RSCS) Université Catholique de Louvain (UCLouvain) Belgia, Ayang Utriza Yakin mengatakan bahwa Banten merupakan satu-satunya kerajaan atau kesultanan Islam di Asia Tenggara yang memiliki catatan hukum pengadilan. Sementara kerajaan lain, umumnya hanya memiliki undang-undang saja.

“Baru Kesultanan Bantenlah yang meninggalkan arsip tertulis,” ucapnya pada saat diskusi di Perpustakaan Nasional , Jakarta Pusat, seperti dilansir NU Online, pada Selasa (1/1).

Ayang menyampaikan bahwa catatan hukum pengadilan itu mulai ditulis pada tahun 1753 M, dan saat ini tersimpan di Universitas Leiden, Belanda. Catatan tersebut terdiri dari empat naskah, 600 halaman naskah asli dan 2000 halaman naskah salinan. Naskah memuat lebih dari 5000 kasus.

Witkamp dalam bukunya The Inventory of Manuscripts, lanjutnya menjelaskan, catatan itu dirampas oleh Pemerintah Hindia Belanda dari seorang syekh yang dituduh melakukan perbuatan zindik dengan jumlah naskah 149 buah. Mereka menangkap syekh tersebut dan menyita semua yang ada di rumahnya. “Diduga, naskah-naskah Kiai Peqih Najamuddin termasuk yang disita oleh Pemerintah Kolonial Belanda,” jelasnya.

Kiai Peqih Najamuddin merupakan sebutan untuk jaksa agung pada masa itu di Kesultanan Banten. “Kadi merupakan jabatan pemegang tampuk wewenang hukum, sementara Kiai Peqih Najamuddin adalah bagi kadi yang berkuasa,” ucapnya.

Lima ribuan kasus yang termuat dalam catatan yang kemungkinan besar tidak langsung ditulis oleh Kiai Peqih Najamuddin itu melibatkan 400-an laki-laki dan 250-an perempuan. Kasus terbanyak tentang utang-piutang dengan jumlah 600 kasus. Selain itu, talak 90-an kasus, budak 80-an kasus, kesaksian 40-an kasus, dan sebagainya. (ar/NU online).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*