Abubakar-Baasyir-2011Jakarta, LiputanIslam.com — Abu Bakar Ba’asyir, tokoh gerakan Islam radikal dan terorisme yang telah menjadi tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, di Kabupaten Cilacap, dilaporkan dalam seminggu bisa mendoktrin sebanyak 15-20 santri yang menjenguknya.

“Sebanyak 15 sampai 20 orang santri setiap minggu dapat tauziah dari dia (Ustaz Abu Bakar Ba’asyir),” tegas Danrem 071/Wijayakusuma Kolonel Inf Edison saat dialog dalam acara Rapat Koordinasi (Rakor) Pemantapan Sinergi Pencegahan dan Penanggulangan Pergerakan ISIS di wilayah provinsi Jawa Tengah, Selasa, 7 April 2015.

Edison sebagai pemangku wilayah sampai saat ini melakukan pemantauan terkait keberadaan Ba’asyir di dalam Lapas Nusakambangan. Hasilnya, ratusan orang dari provinsi Jabar, Jatim, Jateng dan DKI Jakarta berbondong-bondong untuk mengikuti doktrin yang dilakukan di dalam Lapas.

“Menurut data pantauan kami santri dari Jateng sebanyak 260 orang, Jabar sebanyak 96 orang, DKI sebanyak 207 orang dan dari Jatim sebanyak 163 orang. Sumber doktrin yang dilakukan di sana, dan itu berlangsung dan terjadi sampai sekarang,” jelasnya, seperti dilansir Merdeka, 7 April 2015.

Data itu dihimpun berawal dari rasa penasaran dari jajaran TNI terhadap maraknya dan banyaknya para santri yang menjenguk atau membesuk Ba’asyir di Lapas Nusakambangan.

“Cilacap tempat tahanan terorisme di Nusakambangan. Di situ kami berkomunikasi dengan beliau. Beliau katakan negara kita ini negara kafir. Pejabat-pejabat kita juga kafir. Sehingga mereka mengawal orang-orang kafir. Kalau Bapak ke Lapas, tidak kafir karena kalau dibilang kafir saya akan dibatasi ruang gerak saya,” ungkap Edison menirukan pernyataan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir saat dijenguknya sebulan lalu.

Dalam setahun, rata-rata orang yang membesuk Ustaz Abu Bakar Ba’asyir berjumlah sekitar antara 240 pada tahun 2014 lalu. Sementara sampai bulan April 2015 ini jumlahnya mencapai 100 orang santri.

“Beliau gembar-gemborkan di negara Timur Tengah sudah berdiri agama Islam. Tahun 2014 kami datang yang sudah besuk beliau ada 240 orang santri. Tahun 2015 lebih dari 100-an. Setiap besuk beliau didoktrin negara Islam. Agar negara kita damai, maka harus dibentuk negara Islam. Bukan di Indonesia tapi dunia Islam,” jelasnya.

Edison berharap supaya akses untuk menemui dan menjenguk Ba’asyir dibatasi. Selain keluarga, dirinya berharap tidak ada yang dengan mudahnya menjenguknya.

“Dalam kesempatan ini kami sarankan adanya pembatasan kepada beliau (Ba’asyir) untuk dikunjungi terbatas kedua. Kemudian kedua, ada kebijakan tempat lain supaya sulit dijangkau. Karena untuk menemui Ba’asyir hanya dengan naik sepeda motor mereka bisa dengan gampang bisa bertemu,” ungkapnya.

Selain itu, Edison mengusulkan supaya anggota komunitas dan para pengikut Ba’asyir untuk dipisah karena ada kesan, blok Lapas Nusakambangan yang ditempati Ba’asyir dan pengkikutnya terkesan hanya merupakan ‘perpindahan’ Pondok Pesantren Ngruki dari Solo ke Lapas Nusakambangan, Cilacap.

“Ketiga ke tempat mereka ditahan, satu blok beliau beserta pengikutnya, mereka saya pikir tidak ditahan tapi seperti ponpes saja. Seperti ponpes Ngruki pindah ke sana. Ke depan kalau tidak kita batasi, beliau mendoktrin setiap minggu. Setelah pulang dari sana bisa menyebar di wilayah masing-masing,” pungkas Edison. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL