deparpolisasiJakarta, LiputanIslam.com — Belakangan ini istilah deparpolisasi sangat populer di media sosial, khususnya ketika Megawati Soekarnoputri melontarkan wacana untuk melawan deparpolisasi, sebagai reaksi atas pencalonan Basuki Tjahaja Purnama sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta dari jalur independen.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, deparpolisasi adalah pengurangan jumlah partai politik. Namun secara istilah, deparpolisisasi berarti gejala psikologis warga yang menghilangkan kepercayaan terhadap partai politik, dan enggan untuk mengidentifikasikan diri pada partai politik tertentu.

Mengapa kepercayaan rakyat kepada partai politik menurun? Menurut peneliti Lembaga Survei Indonesia Burhanuddin Muhtadi, setidaknya ada empat pemicu hal ini.

Pertama adalah besarnya dukungan publik terhadap calon yang ingin maju menjadi kepala daerah melalui jalur independen atau non-parpol. Hasil Survei nasional LSI pada April 2008 menunjukkan 80 persen masyarakat mendukung calon independen.

Kedua, aturan pemilihan langsung untuk memiilih pimpinan nasional maupun kepala daerah mengurangi arti penting partai politik. Selanjutnya, munculnya figur dari luar partai yang lebih populer dan lebih memiliki elektabilitas.

“Kondisi ini memaksa partai harus mengakomodasi figur tersebut, dan mengabaikan kader partai sendiri. Ini bisa menurunkan otoritas partai, dan bisa menjadi sumber konflik di internal partai,” kata Burhanuddin seperti dilansir Kompas.

Sentimen media massa, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat dan intelektual yang cenderung negatif dan sinis terhadap partai politik.

Sementara itu, pengamat Politik dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta Ansy Lema mengatakan deparpolisasi terjadi bukan karena adanya calon independen, melainkan disebabkan karena citra dan kinerja buruk parpol di mata publik.

“Yang mestinya dipahami, justru fenomena maraknya calon independen merupakan reaksi publik terhadap deparpolisasi. Jadi deparpolisasi merupakan akibat dari citra buruk parpol,” ujar Ansy Lema di Jakarta, Jumat (11/3/2016), seperti dilansir Beritasatu.

Karena itu, kata Ansy untuk melawan deparpolisasi, parpol mestinya berbenah diri guna mengembalikan kepercayaan publik terhadapnya. Menurut Ansy, salah satu caranya adalah para kadernya menampilkan citra terpuji dalam berpolitik dan menghasilkan kinerja dan kebijakan yang berorientasi membela kepentingan rakyat.

“Benahi diri, bahkan mendukung calon independen yang memiliki kinerja baik dan jelas-jelas didukung rakyat perlahan akan mengembalikan kepercayaan publik terhadap parpol,” imbuh dia.

“Hal ini perlu dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan publik bahwa ternyata partai bisa mendengar suara dan aspirasi rakyat. Dengan mendudukkan calon independen sebagai “musuh” yang mengancam parpol, justru bisa menjadi kontra-produktif buat parpol krn justru bisa memperkuat dan memperluas sikap anti-parpol di kalangan masyarakat,” pungkasnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL