agustrionodetikcom

Pekanbaru, LiputanIslam.com – Tak berbeda dengan kisah Bripda Taufik yang sukses menjadi polisi ditengah keterbatasan ekonomi yang menghimpit, Letkol Agus Triyono, Komandan Komando Pasukan Khas (Paskhas) Batalyon 462 di Pekanbaru Riau, pun bisa memberikan teladan bagaimana kondisi ekonomi bukanlah menjadi alasan untuk mewujudkan cita-cita bahkan mampu mengukir prestasi yang lebih baik.

Agus, begitu sapaan akrabnya, merupakan anak ketiga dari enam bersaudara buah hati Abdul Somad Chalik (almarhum) dan ibundanya Ety Sukarti. Sejak SMP, ia sudah jadi anak yatim. Tinggalah bundanya yang sampai sekarang beralamat di Jl Pekalipan Utara Gang Arab, 199 Cirebon. Di rumah sederhana itu, sang ibu harus banting tulang sebagai penjual nasi kuning untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, seperti dilansir dari detik.com.

Sejak kecil Agus dididik dengan keras oleh Ibunya yang telah ditinggal mati suaminya. Sejak SMP, Agus harus membantu ibunya pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan belanja demi melanjutkan hidup dengan berjualan nasi kuning. Setelah itu, barulah Agus tetap berangkat ke sekolah.

Berjualan nasi kuning inilah, sebagai penopang untuk keluarga mereka. Sang ibu memilih tetap hidup sendiri, untuk berjuang menjadikan anak-anaknya bisa bersekolah. Sang ibunda menjadi tulang punggung buat Agus dan saudaranya.

Setelah tamat SMP, Agus mengadu nasib dengan mendaftar sebagai siswa SMA Tauna Nusantara di Magelang. Sekolah itu baru pertama kali menerima murid. Tanpa pikir panjang Agus meminta restu ibunya dan belajar bersama tiga rekannya agar lolos masuk SMA Taruna Nusantara.

Beruntung hanya Agus yang lolos sebagai perwakilan dari Cirebon. Saat itu kebutuhan hidup di SMA Taruna Nusantara sudah di penuhi oleh ABRI. Setelah masuk SMA Taruna Nusantara setidaknya Agus mengurangi beban hidup ibunya karena kebutuhan Agus telah ditanggung negara.

Setelah lulus SMA, Agus sempat mengalami dilema. Meskipun sempat lulus seleksi masuk STAN, akhirnya Agus memilih untuk menjadi anggota TNI. Setelah dinyatakan lulus, disinilah Agus memulai karirnya sebagai prajurit hingga mampu menduduki posisi Danyon Paskhas 462.

Menjadi tampuk pimpinan DanPaskhas, Agus memiliki anggota sekitar 490 personel. Sebelum menjadi orang nomor satu di jajaran Paskhas di Pekanbaru, tentunya pria yang hobi olahraga main bola ini, sudah malang melintang ditugaskan dari Jawa, ke Ambon, Aceh, Jakarta hingga sekarang di Pekanbaru. Dia juga pernah bergabung di Paskhas 464. Agus pun kembali membuktikan bahwa ditengah keterbatasan, dengan tekad yang kuat bisa menggapai cita-citanya. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:
Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*