Mesin penetas penyuMalang, LiputanIslam.com — Kemampuan generasi muda Indonesia dalam menciptakan sebuah karya sudah tidak perlu diragukan lagi. Berbagai masalah yang timbul di dalam kehidupan sehari-hari, membuat mereka semakin kreatif dan inovatif. Hal inilah yang tercermin dari terciptanya mesin penetas penyu, yang dirancang oleh tujuh mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Mereka membuat mesin yang mempunyai keakuratan hingga 95 persen. Mesin ciptaan dari tim yang digawangi Hendra (FPIK), M. Khaerul Askahfi (FIB), M. Abdi Nasrullah (FIB), Oni Zakiyah (FTP), Herfina Imandania (FISIP), Vian Dedi Pratama (FPIK), dan Hasan (FT) saat ini sudah mulai dipesan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Malang.

Apa fungsi dari mesin penetas penyu?

Menurut Hendra, saat ini jenis kelamin antara penyu jantan dan betina saat ini jumlahnya tidak seimbang karena terjadinya peningkatan pemanasan global. Ketidakseimbangan jenis kelamin yang dihasilkan sangat berpengaruh terhadap konservasi penyu. Hal ini disebabkan karena peningkatan suhu akan meningkatkan prosentase penyu betina. Untuk itu, mesin penetas penyu merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengatur jenis kelamin dari telur penyu.

“Jumlah penyu jantan dan betina yang tidak seimbang mengakibatkan tidak sempurnanya pembuahan. Padahal banyak dari telur-telur yang gagal menjadi penyu karena beberapa faktor, seperti membusuk atau diburu. Ditambah dengan ketidakseimbangan jenis kelamin akan menyebabkan semakin berkurangnya pembuahan yang berpengaruh terhadap banyaknya telur yang dihasilkan,” kata Hendra, seperti dilansir dalam halaman resmi Universitas Brawijaya, (18/2/2015).

Alat ini bekerja berdasar suhu sesuai dengan jenis kelamin yang ditetaskan. Jika secara alami prosentase penetasan sebanyak 40 hingga 60 persen, maka dengan menggunakan alat tersebut meningkat menjadi 90 hingga 95 persen.

“Dengan menggunakan alat penetas penyu yang kami buat, kami bisa mengatur jenis kelamin telur penyu jantan atau betina. Prosentase keakuratan alat kami sebanyak 90 hingga 95 persen,” katanya.

Cara kerja alat penetas penyu yaitu dengan mengatur suhu. Jika menginginkan jenis jantan maka suhu diturunkan, sebaliknya untuk menghasilkan penyu betina maka dengan menaikkan temperatur suhu. Batas minimal suhu yang digunakan mulai dari 25oC hingga 32oC.

“Alat kami sudah diuji coba pada skala laboratorium dan uji ketelitian alat. Alat penetas penyu buatan kami sudah lulus uji coba. Saat ini kami sedang mengurus HaKI dan Paten di LPPM UB,” katanya.

Penetas penyu buatan mahasiswa tersebut saat ini sedang digunakan untuk kegiatan budidaya penyu di desa Wonocoyo Trenggalek. Di desa tersebut saat ini sudah ada dua alat penetas penyu.

Sayangnya, ketersediaan alat tidak sebanding dengan banyaknya telur yang harus ditetaskan. Dalam satu kali musim tetas ada 6000 butir telur. Sedangkan satu alat hanya mampu digunakan untuk 800 butir.

“Alat penetas penyu yang kami terapkan di Desa Wonocoyo Trenggalek merupakan bentuk kegiatan pengabdian masyarakat bekerjasama dengan tim dari UKM seni religi dari FIB, FTP, dan FISIP,” kata M. Khaerul Askahfi.

Akankah pemerintah segera menindaklanjuti temuan ini? (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL