indonesia okeBandar Lampung, LiputanIslam.com— Konflik horizontal masih terus dipelihara oleh berbagai oknum individu maupun kelompok di Indonesia. Perbedaan dianggap sebagai suatu bahaya laten, sehingga seringkali kita menemukan narasi-narasi kebencian terhadap suatu agama, kepercayaan, atau mazhab tertentu. Hal ini tentu bertolak belakang dengan cikal bakal bangsa Indonesia, yang memang sejak awal memang majemuk.

Isu perbedaan inilah yang lantas dibahas dalam seminar kebangkitan nasional ke-107 bertema Xaverius Pringsewu Turut Membangun Indonesia, di aula SMA Xaverius Pringsewu, Lampung, Senin, 11 Mei 2015.

“Bangsa Indonesia tidak akan hancur karena ada perbedaan suku, bahasa, etnis, agama, dan kebudayaan. Jadi, adalah keliru kalau ada kelompok yang muncul dengan aliran tertentu seperti Arab Centris dan bermimpi mau menyeragamkan. Itu mengkhianati cita-cita dan semangat pendiri bangsa ini,” kata KH Maman Imanullaq.

Selain KH Maman Imanullaq, seminar nasional yang dipandu wartawan senior Kompas Trias Agung ini menampilkan tiga pembicara lainnya, yakni Uskup Tanjung Karang, Mgr Yohanes Harun Yuwono Pr, pengusaha nasional Franciskus Welirang, mantan Kasum TNI Laksdya TNI (Purn) Y Didik Heru Purnomo, mantan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Dr H Sugiri Syarief dan Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada AM Putut Prabantoro.

“Sangat disesalkan, kalau ada orang yang meneriakkan Allahu Akbar lalu membunuh orang lain atas nama agama. Jangan sampai ada orang yang mengklaim beragama, tetapi atas nama agama menghancurkan gereja, masjid atau menghalangi orang lain beribadah,” tegas KH Maman Imanullaq, seperti dilansir Beritasatu.

KH Maman Imanullaq, yang juga politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengatakan bahwa musuh yang harus diperangi adalah kebodohan, kemiskinan, dan koruptor, bukan seseorang atau kelompok lain.

Memanusiakan Manusia

Sementara itu, Uskup Tanjungkarang Mgr Yohanes Harun Yuwono Pr mengatakan bahwa hakikat pendidikan sesungguhnya adalah memanusiakan manusia. Ia menjelaskan pendidikan dan pengajaran pada dasarnya adalah istilah manusiawi yang bertujuan mengembangkan kematangan kepribadian manusia, dalam hal ini peserta didik. Di dalam keduanya terkandung ajakan dan pelatihan kepada peserta didik untuk merdeka bukan paksaan.

Uskup Harun menambahkan, pengajaran bukan penghajaran dan bimbingan harus dipandang sebagai undangan sukarela terhadap anak didik, bukan karena paksaan disertai kekerasan dan pengawasan yang ketat. Sebab itu, pendidikan seharusnya membuat manusia dewasa, mandiri, berani bertanggung jawab, dan beradab.

“Ikatan kuat kekeluargaan Indonesia menjadi modal penting untuk mengingatkan anggotanya yang menyimpang. Mengapa karakter baik ini tidak menjadi penekanan untuk dikembangkan? Semoga jayalah manusia Indonesia, beriman, sejahtera dan berbudaya,” kata Mgr Yohanes berharap. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL