kompas

kompas

LiputanIslam.com – Dunia dikejutkan dengan sebuah publikasi di sebuah jurnal PLOS ONE pada akhir tahun 2014 dengan judul “A Novel Reproductive Mode in Frogs: A New Species of Fanged Frog with Internal Fertilization and Birth of Tadpoles.” Pasalnya dalam jurnal itu terungkap bahwa ada seekor katak yang bisa melahirkan kecebong dan bukan bertelur seperti katak pada umumnya.

Media sains dan umum di dunia internasional heboh dan menjadikan jurnal itu sebagai rujukan berita yang mencengangkan sekaligus sangat berharga bagi sejumlah pakar reptil dan amfibi dunia seperti diberitakan kompas.com.

Makalah memuat penemuan spesies baru katak bertaring Sulawesi, Limnonectes larvaepartus. Bukan cuma kebaruan jenis yang membuat dunia terkejut, melainkan juga kebaruan reproduksinya. Katak itu merupakan satu-satunya katak di dunia yang melahirkan kecebong.

Dibalik penemuan tersebut terdapat sosok ilmuwan Indonesia Djoko Tjahjono Iskandar yang merupakan herpetolog (pakar amfibi dan reptil) asal Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bukan kali ini saja mengegerkan dunia sains dengan penemuan-penemuannya.

Ia memilih meneliti katak sejak tahun 1978. Bisa dibilang hanya dialah satu-satunya ahli katak dan amfibi sekaligus sebagai pioneer herpetolog di Indonesia pada saat itu.

Penemuan-penemuan sebelumnya terhitung sebagai penemuan langka. Ambil contoh saja seperti Barbourula kalimantanensis, katak famili Discoglossidae pertama yang ditemukan di Borneo. Kemudian dilanjutkan dengan penelitian lanjutan yang mengungkapkan bahwa Barbourula kalimantanensis ternyata tidak memiliki paru-paru dan bernapas dengan kulitnya yang ia publikasikan melalui jurnal Current Biology.

Selanjutnya Cyrtodactylus batik, cicak jari bengkok yang ditemukan di Gunung Tompotika, wilayah Sulawesi Tengah.

Karirnya tersebut menjadikan Djoko sebagai ilmuwan yang telah menjelajahi sebagian besar hutan Indonesia di 30 Provinsi.

Sepanjang kariernya, ia telah menemukan 30 spesies katak dan reptil. Beberapa spesies menggunakan namanya, seperti Luperosaurus iskandari, Fejervarya iskandari, Collocasiomya iskandari, dan Draco iskandari.

Dengan banyaknya spesies yang belum terungkap olehnya, sekitar 150 spesimen, baik dalam koleksi maupun di alam, Djoko berharap ada lebih banyak orang yang menaruh perhatian pada katak dan reptil. Walaupun, mempelajarinya tak akan banyak mendatangkan manfaat ekonomi segera.

Mempelajari keanekaragaman hayati, kata Djoko, akan membuat siapa pun sebagai warga negara merasa puas karena diakui sekaligus bangga karena telah peduli pada alam Indonesia yang mahakaya. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:
Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*