Sumber: muslimoderat.net

Jakarta, LiputanIslam.com– Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jajang Jahroni mengatakan bahwa kawasan Asia Tenggara saat ini darurat gerakan radikalisme agama. Menurutnya, radikalisme telah menjadi ancaman serius, baik di Indonesia, Filipina, Myanmar, Thailand, maupun negara Asia Tenggara lainnya. Hal itu disampaikan Jajang Jahroni pada konferensi internasional Studia Islamika yang mengangkat tema “South Asian Islam : Religious Radicalism, Democracy and Global Trends,” yang berlansung di Gedung PPIM Kampus 2 UIN Jakarta, pada Rabu (9/8).

“Saat ini kan sedang menggejala radikalisme agama, kemudian ada terorisme, ekstremisme. Tapi di sisi lain juga ada demokrasi. Asia Tenggara juga menerima berbagai pengaruh global. Ada ideologi-ideologi Islam transnasional,” ujarnya.

Proses demokrasi di masyarakat terancam oleh gerakan radikalisme dan terorisme. Padahal menurut Jajang, Asia Tenggara merupakan kawasan dengan penuh keberagaman, baik dari agama maupun dari segi budaya. “Padahal, Asia Tenggara itu merupakan kawasan yang amat beragam. Baik dari segi agama, maupun etnik dan budaya. Jadi sulit membayangkan Asia Tenggara itu seragam. Tidak bisa,” jelasnya.

Sementara, menanggapi terbitnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang pembubaran ormas radikal, Jajang Jahroni berpandangan bahwa Perppu tersebut dibutuhkan untuk menghentikan paham radikal yang semakin mengkhawatirkan belakangan ini. Menurutnya, ormas radikal tidak boleh dibiarkan.

“Jadi Indonesia ini darurat ormas. Ormas itu kalau ditata sedemikian rupa ya bagus. Tapi kalau tidak ditata, dia menjadi liar dan bisa mengganggu demokrasi,” ucapnya. (Ar/Republika).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL