rooftop rain water harvesting

LiputanIslam.com – Banjir pada musim hujan merupakan pemandangan yang sudah biasa. Terutama di kota-kota besar dan padat penduduk seperti Jakarta dan Bandung. Para pemimpin daerah malah berpikir untuk membuat ribuan sumur resapan yang diperkirakan akan menghabiskan anggaran miliyaran rupiah.

Berbeda dengan yang dilakukan oleh pemerintah India melalui Wadah Foundation Anie Hashim Djojohadikusumo yang memelopori untuk mendidik delapan perempuan desa berpendidikan rendah dari wilayah timur Indonesia, bahkan ada beberapa yang buta aksara, untuk merakit alat elektrik tenaga surya (solar electriction) dan tempat penampungan air hujan permanen (rooftop rain water harvesting) seperti dilansir dari sindonews.com.

8 wanita lansia tersebut mendapatkan pelatihan langsung secara gratis selama enam bulan di Tilonia, Jaipur, India. Pelatihan yang berlangsung sejak tanggal 16 September 2013 hingga 14 Maret 2014 itu merupakan kerjasama antara Wadah Foundation dengan Barefoot College.

Para perempuan tersebut berasal dari desa binaan Wadah Foundation di Wilayah Indonesia bagian Timur. Tiga desa berasal dari Flores yakni desa Koa, Teka Iku, Nangahure, dan Wuring. Sementara satu desa lainnya yaitu Desa Kua yang berada di Kupang NTT.

Desa-desa terpencil tersebut rata-rata belum mendapatkan listrik, sebagian besar berpendapatan rendah dan sangat terpencil dari kota besar.

Untuk mengajak 8 wanita lansia ini tidak mudah pada awalnya. Program gratis Indian Technical Economic Cooperation (ITEC) sempat mereka curigai sebagai kedok penjualan manusia ke luar negeri. Namun setelah diberikan pemahaman akhirnya mereka mau megikuti pelatihan selama 6 bulan di India.

“Kami pilih perempuan yang usianya cukup tua, karena setelah mendapatkan pendidikan, mereka tidak akan keluar dari lingkungannya. Sebaliknya, wanita muda dan laki-laki, usai mendapatkan pendidikan, langsung keluar dari lingkungan,” beber Duta Besar India untuk Indonesia Gurjit Singh.

Pengalaman tersebut menunjukkan apa sebenarnya yang paling dibutuhkan oleh desa terpencil agat mereka mandiri dengan bantuan pendidikan dan pemberdayaan sdmnya. Dengan begitu mereka pulalah yang membagun kembali desanya setelah mendapatkan pendidikan yang singkat namun benar-benar diperlukan di daerahnya.

Konsep tersebut bisa diadopsi oleh beberapa pemerintah daerah dalam mendidik warganya dalam mensikapi hujan yang kerap kali mengakibatkan banjir. Pendidikan memang sangat melelahkan namun dampaknya akan dirasakan lebih lama dan lintas generasi jika dibandingkan hanya sekedar membangun sumur resapan yang efektifitasnya mungkin hanya dirasakan dalam waktu singkat. (fie)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL