No2ISIS BAruJakarta, LiputanIslam.com — Indonesia kembali dibuat gempar dengan menghilangnya 16 Warga Negara Indonesia (WNI) di Turki. Seperti diketahui, rombongan ini berangkat ke Turki dengan menggunakan jasa perjalanan Smailing Tour, Jakarta. Namun, saat berada di bandara Ataturk, 16 WNI itu memisahkan diri dari rombongan dan hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. Saat itu, pemimpin rombongan yang mencoba mengontak salah satu orang dari 16 WNI hanya mendapatkan jawaban bahwa mereka tidak akan bergabung kembali dengan rombongan.

Dari laporan Metro TV, enam dari WNI yang hilang tersebut merupakan warga Surabaya. Mereka merupakan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan empat anak. Anak terkecil diketahui belum genap berusia 1 tahun.

Selain itu, terdapat lima warga Solo yang juga hilang dan memiliki hubungan keluarga. Nama lima warga Solo tersebut tercatat berasal dari Kelurahan Gajahan, Solo.

Kelima warga tersebut adalah Hafid Umar Babher (32), istrinya, Soraiyah Cholid, dan kedua anak mereka, Hamsah Hafid (6) dan Utsman Hafid (4). Satu orang lainnya adalah Fauzi Umar (36) yang adalah kakak dari Hafid Umar Babher.

Pemerintah menduga 16 warga negara Indonesia (WNI) yang hilang dalam perjalanan ke Turki, akan bergabung dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Senada dengan pemerintah, pengamat terorisme Al Chaidar menduga, hilangnya 16 WNI di Turki, hampir dipastikan 90 persen masuk menjadi bagian ISIS. Pasalnya, banyak mujahid yang menjadikan Turki sebegai tempat transit.

Disamping itu, menurut Al Chaidar, Turki dengan pemimpin yang baru saat ini juga cukup dekat dengan ISIS. Meskipun, pemimpin negera itu tidak secara langsung mendukung terhadap ISIS. “Secara geografis apalagi, cukup dekat,” ujar Al Chaidar seperti dilansir Republika, Ahad (8/3/2015).

Menurut dia, ISIS memiliki kelebihan dibandingkan dengan kelompok ekstrem lainnya. ISIS, kata Al-Chaidar, memiliki ide negara khilafah. Sehingga ide tersebut yang membuat dukungan semakin masif termasuk dari Indonesia.

Hal tesebut berbeda dengan kelompok seperti Al-Qaeda yang tidak memproklamasikan pembentukan negara khilafah. Karena itu, dukungan terhadap Al-Qaeda tidak sekencang terhadap ISIS.

Al Chaidar juga menyebut, adanya WNI yang bergabung dengan ISIS hingga ratusan merupakan sebuah fenomena. Untuk itu, pemerintah dan ulama perlu melakukan tindakan. Kendati demikian, pemerintah juga tidak bisa melakukan pencekalan kepada WNI yang akan bepergian ke luar negeri. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*