Diambil dari Mongabay.com

LiputanIslam.com – Seorang warga Desa Karangreja Kecamatan Karangreja Purbalingga bernama Pujo Hartono mampu menciptakan sebuah alat atau mesin pemilah sampah yang cukup canggih bernama Pujo Bae. Pujo Bae terbukti dapat memilah sampah organik dan anorganik. Bahkan untuk sampah organik sendiri pun dipilah, yaitu sampah organik yang telah menjadi bubur dan sampah organik kering yang telah tercacah. Mesin tersebut telah masuk dalam 10 besar lomba teknologi tepat guna (TTG) pada September tahun 2018 lalu. Mesin tersebut akan memperoleh hak kekayaan intelektual (HAKI). Kini mesin tersebut telah dibeli dan dimanfaatkan oleh sejumlah daerah di seluruh Indonesia.

Harga Pujo Bae hanya berkisar Rp. 32,5 juta dengan sistem pajak pembelian ditanggung oleh pihak yang membeli.

Awal mula ide penciptaan mesin canggih tersebut adalah sejak 6 tahun lalu ketika Pujo Hartono masih menjabat sebagai kepala desa Karangreja. Ceritanya seperti yang dilansir Mongabay, ketika itu ada ide dari pemuda untuk membuat bank sampah yang bisa mengelola sampah dari seluruh desa.

“Setelah berjalan menjadi bank sampah, ternyata justru memunculkan persoalan yang tidak tuntas. Bank sampah itu umumnya hanya mengambil sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis, seperti plastik, kardus, dan logam. Kisarannya hanya 30% dari total sampah, sehingga tersisa 70% sampah organik. Ini yang kemudian menimbulkan masalah, karena setiap hari sampah kian menumpuk,” tutur Pujo.

Oleh sebab itu, Pujo dan ayahnya yang kebetulan pandai mekanik dan permesinan berusaha untuk membuat alat yang bisa memilah sampah agar seluruh sampah yang ada di bank sampah desa dapat dikelola secara maksimal. Hari demi hari, mesin itu pun jadi dan terus diperbarui agar semakin canggih dan efektif.

“Dalam perkembangannya, akhirnya terbentuk mesin pemilah sampah. Setiap saat, kami terus melakukan perubahan dan pembaruan. Hingga kini, mesin pemilah dan pencacah telah mengalami modifikasi hingga 14 kali. Secara teknis, generasi terakhir mesin pemilah dan pencacah sampah, mampu memilah tiga jenis sampah sekaligus. Yakni sampah organik yang telah menjadi bubur, kemudian sampah organik kering serta sampah anorganik. Semuanya berguna, tinggal tindak lanjut pengelolaan masing-masing pihak yang memanfaatkan mesin,” lanjutnya.

Menurut Pujo, kapasitas mesin pemilahnya saat ini sudah mampu memilah 3 kubik per jam ketika musim penghujan dan mampu memilah 5 kubik per jam ketika musim kemarau.

“Kalau selama seharian, ada sekitar 14 ton sampah yang dapat dipilah. Seperti yang kami praktikkan di TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Karangcegak ini, satu mesin sudah dapat dioptimalkan untuk memilah sampah. Namun sebetulnya masih dapat dimaksimalkan lagi kalau posisi mesin pemilah berada di bawah tempat penampungan sampah, sehingga tidak perlu ada pekerja menumpahkan sampah ke bagian atas mesim,” jelas Pujo.

Menurut seorang warga yang telah menggunakan produk Pujo Bae, mesin tersebut sangat efektif untuk membantu mengelola dan mengolah sampah. Mesin tersebut menjadi solusi awal bagi pemanfaatan sampah yang lebih optimal dibandingkan sebelumnya. Tanpa ada mesin pemilah seperti Pujo Bae, warga akan kesulitan memilah sampah yang sudah tercampur secara manual. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*