Sumber: Pertanian Sehat

LiputanIslam.com — Di Kalimantan Barat terdapat petani yang menggunakan teknik pertanian berkelanjutan dengan cara memanfaatkan agroteknologi dan menghindari bahan-bahan kimia seperti pestisida. Ialah Suma Ruslian (53), petani mandiri di Desa Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Ia menanam pisang, labu air, sawi, cabai, mentimun, dan tanaman lainnya.

Ia tidak hanya sukses bertani, tetapi juga sukses mencetak para petani modern di lembaga pendidikan pertanian bentukannya. Kiat besarnya adalah dengan menerapkan sistem pertanian berkelanjutan melalui agroteknologi dan menghindari pestisida karena pertanian konvensional di Indonesia dengan penggunaan pestisida biasanya malah merugikan petani, antara lain, serangan hama tertentu meningkat setelah pengaplikasian insektisida pada padi. Pertanian berkelanjutan kini jadi acuan baru bagi negara-negara agraris di dunia.

Sistem pertanian berkelanjutan menjadi fenomena baru yang mulai berkembang sejak tahun 1990-an. Sistem pertanian ini muncul sebagai jawaban atas berbagai permasalahan yang diakibatkan dari penerapan sistem pertanian konvensional yang banyak menggunakan bahan-bahan kimia seperti pupuk kimia dan pestisida.

Hadirnya sistem pertanian berkelanjutan diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif dari sistem pertanian berbasis kimiawi, sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Sistem pertanian berkelanjutan seringkali disebut sebagai suatu konsep pemikiran masa depan, karena tidak hanya memberikan manfaat kepada umat manusia pada saat ini, akan tetapi juga pada waktu yang akan datang. Beberapa negara di Asia Tenggara mulai mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan, misalnya di Thailand dan Vietnam.

Menurut Suma, pertanian berkelanjutan melalui agroteknologi merupakan kunci pembangunan pertanian di Indonesia. Kejayaan Indonesia sebagai negara agraris, katanya, bisa kembali berjaya dengan metode ini.

Negara agraris yang menjadi predikat Indonesia, saat ini tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Sebagai negara berkembang, katanya, banyak sekali hal yang menghambat jalan menuju pertanian maju dengan menggunakan teknologi mumpuni. Salah satunya, sumber daya manusia atau petani. Petani, salah satu komponen dalam pembangunan pertanian di Indonesia.

Di negara maju, profesi petani dapat hidup sejahtera dengan penerapan teknologi. Sangat berbeda dengan petani di Indonesia. Di Amerika, menyerukan, profesi yang menjanjikan kekayaan warga adalah petani. Apalagi harga komoditas pangan dunia dalam beberapa waktu ke depan akan meningkat tajam mengalahkan bursa-bursa keuangan global. Terlebih dunia saat ini mulai dilanda krisis pangan.

Baca juga: Krisis Iklim, Pasokan Pangan, dan Kurang Gizi

“Banyak yang tak mau jadi petani. Saya mau kasih lihat ke anak muda, pertanian ini sektor yang menjanjikan. Asal tahu bagaimana mengelolanya. Pemerintah harus mampu meyakinkan generasi muda bahwa sektor pertanian ini sangat menjanjikan agar profesi ini mau dilirik,” katanya.

Ia memandang bahwa agroteknologi merupakan jawaban kebutuhan pangan masa datang. Agroteknologi, adalah teknik budidaya pertanian yang menggunakan sumber daya alam, dengan pendekatan ilmiah dan alamiah untuk mendapatkan perubahan lebih baik.

Melalui agroteknologi, ia mengelola pertanian terpadu, mengolah limbah atau kotoran ternak sapi jadi bio gas, mengolah urin sapi sapi jadi pupuk organik cair, dan kompos aktif maupun kompos mikrobakteri. Dia pun membuat pupuk organik cair biokultur dari kotoran sapi.

Lalu bagaimana langkah pemerintah?

Secara nasional, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) membuat rencana aksi rawan pangan. Salah satunya, dengan program pengembangan korporasi usaha tani (PKU), terutama di daerah dengan indeks ketahanan pangan rendah. Idenya, pasar penjualan akan dijamin dengan regulasi peraturan gubernur yang mewajibkan semua industri pariwisata menyerap minimal 20% produk lokal.

Langkah ini, katanya, diambil pemerintah agar tak sekadar meningkatkan kemandirian pangan dan kesejahteraan petani, juga menaikkan level indeks ketahanan pangan berstandar internasional. (Ay/Mongabay/LIPI)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*