Diambil dari Mongabay,com

LiputanIslam.com – Di Kelurahan Mersi Kecamatan Purwokerto Timur Bayumas Jawa Tengah, terdapat Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Adipati Mersi. Ketuanya bernama Satiman yang berumur 62 tahun. Ada hal menarik dari kelompok swadaya ini, yaitu mampu mengolah sisa-sisa makanan atau sampah organik menjadi bahan bakar biogas yang kemudian disalurkan ke warga sebagai pengganti gas elpiji.

KSM tersebut mengaku sudah memproduksi biogas dari sampah sejak tahun 2012 silam. Pengolahan produksi tersebut menggunakan alat instalasi bio methagreen, sehingga tidak sulit.  Alat instalasi tersebut merupakan pembangkit biogas dengan menggunakan prinsip kedap udara atau anaerob. Bagian utama terdiri dari digester, lubang masuk bahan baku berupa sisa sampah pangan dan ada lubang pengeluaran serta pipa penyaluran biogas. Biogas tersebut sangat bermanfaat untuk warga karena dapat menghemat pembelian gas elpiji per bulannya, bahkan tidak lagi membeli elpiji.

“Walaupun belum banyak yang mendapatkan pasokan biogas, namun mereka sudah dapat menghemat pembelian. Biasanya, satu keluarga membeli 3-4 tabung dalam sebulan dengan harga kisaran Rp. 18 ribu, namun setelah ada pasokan dari biogas sampah, mereka tidak lagi membeli elpiji,” tutur Satiman.

Bahkan menurut Satiman, biogas pun bisa digunakan sebagai sumber listrik jika pasokan sampah organik sebagai bahan produksinya berlimpah. Hingga saat ini, pasokan sampah baru sekitar 100 kg dari Pasar Wage Purwokerto, dan hanya mampu menjangkau 4-5 rumah saja.

Pasokan dari Pasar Wage tersebut terdiri dari sisa-sisa sayuran, buah-buahan, dan bahan pangan lainnya.

“Kami mendapat pasokan dari Pasar Wage, pasar terbesar di Purwokerto. Jalinan kerja sama dengan pihak pasar ditandatangani pada 2014 silam. Setiap pekan, ada dua hingga tiga kali pasokan sisa berbagai bahan pangan dari pasar tersebut. Setiap kali pasokan, sekitar 75 kg hingga 100 kg,” jelasnya.

Satiman berharap agar pasokan sampah organik bertambah sampai 300 kg atau 3 kuintal agar bisa menjangkau 30 rumah.

“Memang tidak mudah untuk mendapatkan pasokan sisa sampah organik dari pasar. Namun demikian, kami akan terus berusaha untuk meningkatkan tambahan pasokan sampah organik. Sebab kapasitas bio methagreen yang menjadi instalasi pengolahan mampu memproses sampah sampai 3 kuintal,” tambahnya.

Selain menghasilkan bahan bakar biogas, hasil produksi alat instalasi bio methagreen pun menghasilkan bahan organik cair yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk organik dan starter pembuatan kompos.

Dalam sebulan, KSM baru menghasilkan 250 liter bahan organik cair yang kemudian dijual ke Pemkab Banyumas. Harganya Rp. 15 ribu per liter. Selain Pemkab, KSM juga menjual bahan organik cair ke masyarakat sekitar dengan harga Rp. 7 ribu per liter. Selain itu, bahan organik cair pun diolah menjadi kompos yang kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan anggota KSM sendiri.

“Jadi bahan organik cair itu sebagai campuran untuk mengolah kompos dengan bahan baku dedaunan dan ranting pohon. Kebetulan di sini ada dua tempat sebagai pengolah kompos. Tiap bulannya pupuk kompos yang dihasilkan mencapai 2 ton. Kalau kompos tidak dijual sebagai pupuk cair. Kompos hanya untuk memenuhi kebutuhan anggota KSM Adipati Mersi,” lanjut Satiman.

Kini Satiman sering diundang sebagai pembicara ke luar daerah untuk berbagi pengalamannya dalam mengolah sampah organik menjadi bahan bakar biogas, sesuatu yang sangat bermanfaat untuk masyarakat karena bisa digunakan sebagai pengganti gas elpiji. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*