LiputanIslam.com – Selain menggunakan alat pemilah dan pencacah sampah seperti Pujo Bae serta bio methagreen yang mampu mengubah sampah menjadi bahan bakar biogas, ada cara unik lain seperti yang dikembangkan oleh warga Dusun Larangan Desa Sokawera Kecamatan Cilongok Banyumas Jawa Tengah. Mereka membudidaya lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF), nama latinnya adalah Hermetia illucens, untuk mengurai sampah organik. 1 kg larva BSF dapat mengurai 1 kg sampah organik.

Hasil penguraian dari BSF pun bisa langsung digunakan sebagai pupuk. BSF adalah jenis lalat yang berbeda. Jika biasanya lalat identik dengan hal yang kotor dan penyakit, BSF tidak. BSF adalah lalat yang tidak bersifat patogen karena tidak membawa agen penyakit. Dan baiknya, BSF mampu mengurai sampah tanpa bau sebagaimana bau busuk sampah biasanya. Sehingga warga dapat dengan mudah menbudidaya BSF di lingkungan rumah masing-masing karena tidak menimbulkan bau busuk.

“Sudah dilakukan percobaan oleh warga Dusun Larangan, bahwa sampah-sampah organik dari rumah tangga, tidak lagi dibuang, melainkan sebagai pakan maggot (larva BSF). Larva tersebut melakukan penguraian bahan-bahan organik tanpa menimbulkan bau. Inilah hebatnya, karena biasanya sampah organik menimbulkan bau. Tetapi kalau diproses oleh maggot, tidak memunculkan bau yang tidak sedap,” ungkap Adib, warga pembudidaya di Dusun Larangan.

Budidaya BSF memiliki manfaat yang sangat luar biasa. Selain menambah pendapatan warga pembudidaya yang cukup lumayan, budidaya BSF pun dapat dijadikan sebagai salah satu solusi hebat untuk mengurai sampah organik yang kian menumpuk setiap hari dan menimbulkan bau busuk warga sekitar.

Menurut Akbar, salah satu warga pembudidaya, satu kandang BSF mampu menghasilkan 50 gram telur per hari dengan harga jual Rp. 10 ribu per gram. Berarti dapat menghasilkan Rp. 500 ribu per hari. Itu baru telur dari BSF. Yang bisa dijual dari budidaya BSF tidak hanya telurnya, tetapi juga larvanya.  Per hari bisa menghasilkan sampai 30 kg larva. Siklus hidup BSF hanya berkisar 45 hari mulai telur hingga lalat dewasa. Seekor lalat betina bisa menghasilkan 500-900 butir telur. Sedangkan untuk mendapatkan 1 gram telur membutuhkan 14-30 BSF. Dan untuk 1 gram telur akan menghasilkan 3-4 kg maggot atau larva. Fase larva sekitar 18 hari. Pada fase larva lah, BSF mengurai sampah-sampah organik.

Hasil penguraian larva BSF tidak dibuang, melainkan digunakan sebagai pupuk tanaman.

Pihak warga Dusun tersebut telah menghubungi Pemkab Banyumas untuk mendorong masyarakat sekitar Banyumas membudidayakan BSF untuk mengatasi persoalan sampah dan menambah pendapatan ekonomi masyarakat Banyumas.

Lebih lanjut, manfaat lain dari budidaya BSF menurut mereka adalah bahwa hasil pendapatan dari budidaya BSF mampu memberikan beasiswa kuliah bagi anak-anak kurang mampu di daerah tersebut. Khususnya budidaya BSF yang bersifat komunal dari para masyarakat sekitar.

Diambil dari Mongabay

“Sudah ada tiga anak di Sokawera yang menggunakan sumber dana hasil  budidaya BSF. Anggaran itu diambilkan dari budidaya komunal. Kalau budidaya pribadi kan keuntungannya untuk warga pembubidaya, tetapi jika panen dari kandang komunal, maka ada pembagian hasil. Sebanyak 50% untuk Kampung Laler (sebutan untuk Dusun Larang), 30% dipakai untuk beasiswa kuliah dan 20% bagi mitra. Dengan skema ini, ada unsur sosial yang masuk, terutama pendidikan bagi anak-anak kurang mampu,” lanjut Adib. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*