LiputanIslam.com – Kepulauan Cocos (Keeling), sebuah pulau terpencil di Samudera Hindia, terdapat banyak sampah botol, alat makan, tas, sedotan, dan 977.000 sepatu.

Di sana, para ilmuan kelautan menemukan 977.000 sepatu dan 373.000 sikat gigi.

Para ilmuan tersebut meneliti sejumlah tempat terpencil di Bumi. Salah satunya di Samudera Hindia. Mereka kaget karena menemukan ribuan sampah yang terdampar di pantai, termasuk potongan plastik 414m dengan berat 238 ton. Hasil penelitian tersebut pun diterbitkan di Jurnal Nature. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa sampah plastik kian mencemari lautan dunia. Volumenya terus bertambah. Produksi dan pembuangan produk sekali pakai kian mengkhawatirkan.

Peneliti utama, Jennifer Lavers, dari Institut Studi Kelautan dan Antartika di Universitas Tasmania, mengatakan bahwa pulau terpencil dengan populasi yang kecil adalah indikator paling efektif untuk melihat jumlah puing-puing plastik yang mengapung di lautan.

“Pulau-pulau seperti ini bagai burung kenari di tambang batu bara dan semakin mendesak kita untuk menindaklanjuti peringatan yang mereka tampakkan kepada kita. Polusi plastik sekarang ada di setiap lautan kita, dan pulau-pulau terpencil adalah tempat yang ideal untuk mendapatkan gambaran yang objektif tentang volume sampah plastik yang sekarang mengelilingi dunia,” ungkap Lavers.

Baca Juga: Sekolah SMP di Bali Terapkan Nol Plastik

Studi penelitian tersebut menemukan bahwa jumlah puing yang terkubur hingga 10 cm di bawah pantai adalah 26 kali lebih besar daripada jumlah yang masih terlihat di permukaan.

Lavers pun memimpin penelitian serupa sebelumnya yang diterbitkan pada tahun 2017. Hasil penelitian ketika itu adalah bahwa Pulau Henderson yang terpencil di Pasifik Selatan bagian timur adalah di antara tempat-tempat yang paling terkena dampak polusi plastik.

Di Pulau Henderson, puing-puing berasal kebanyakan dari sampah penangkapan ikan, sedangkan di Pulau Cocos puing-puingnya sebagian besar berupa barang-barang sekali pakai seperti botol, alat makan plastik, tas, sedotan.

“Kebutuhan besar terhadap plastik, ditambah kebijakan dan pengelolaan limbah yang tidak efektif, telah menghasilkan banyak efek negatif pada lingkungan laut, lingkungan air tawar, dan terestrial,” jelasnya.

“Kepulauan Cocos disebut sebagai surga murni dan terakhir di Australia. Pariwisata merupakan sumber pendapatan utama masyarakat setempat. Namun dampak puing sampah di pantai mereka semakin banyak. Barang-barang seperti sepatu dan sikat gigi ditemukan dalam jumlah besar. Para peneliti mengatakan bahwa perlu waktu 4.000 tahun untuk menghasilkan jumlah limbah atau sampah yang sama.

Perlu adanya perubahan yang cepat sehingga puing-puing antropogenik tidak semakin terakumulasi di pantai yang memberi dampak pada keanekaragaman hayati.

Seorang teman Lavers bernama Annett Finger dari Universitas Victoria mengatakan bahwa produksi plastik global terus meningkat. Jumlah plastik yang diproduksi sejak 2006 hampir setengah dari yang diproduksi pada 60 tahun terakhir.

Baca Juga: Persoalan Sampah Plastik Harus Jadi Perhatian Pemerintah

“Diperkirakan ada 5,25 triliun keping plastik konsumen sekali pakai,” ucap Finger.

Finger pun menambahkan bahwa membersihkan lautan kita saat ini tidak memungkinkan. Membersihkan pantai setelah tercemar plastik memakan waktu lama, mahal, perlu diulangi secara teratur karena ribuan keping plastik baru diproduksi, dipakai, dan kemudian dibuang. (Ay/Guardian)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*