bersatuDalam sejarahnya, kaum Muslimin berkali-kali mendapatkan ujian berupa ancaman perpecahan. Bahkan di awal perkembangan agama Islam, ketika Rasul yang mulia masih hidup, dua kabilah utama di Madinah yaitu Aus dan Khazraj pernah saling menghunus pedang dan siap menumpahkan darah. Khusus untuk peristiwa itu, turunlah ayat 103 dari surah Ali Imran:

“Berpegang teguhlah kalian semua kepada tali Allah, dan janganlah bercerai berai. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian. Lalu karena ni’mat Allah itu, kalian menjadi orang-orang yang bersaudara.

Tentu saja, sebagaimana ayat-ayat Alquran lainnya, ayat inipun kemudian tidak hanya ditujukan kepada kedua kabilah dan di waktu itu saja. Ayat ini berlaku bagi seluruh ummat Islam sepanjang zaman. Pada dasarnya, perpecahan selalu memiliki pola yang sama. Perpecahan itu ada yang membuatnya, dan karenanya harus dilawan. Perpecahan biasanya menjadi komoditas musuh yang harus dilenyapkan.

Tak seorang ulama pun yang membantah bahwa perintah bersatu pada ayat 103 surat Ali Imran itu hukumnya wajib. Bahkan, nilai wajibnya menjadi semakin tinggi mengingat perintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah (wa’tashimuu bi hablillah) langsung disusul dengan larangan tegas untuk bercerai-berai (wa laa tafarraquu). Sangat jarang sebuah perintah dalam Al Quran disampaikan dengan redaksi dua kalimat berturut-turut: perintah melakukannya dan larangan untuk melakukan hal sebaliknya.

Agar bisa mengimplementasikan kewajiban itu, ummat Islam bukannya tidak punya peluang. Berkat rahmat Allah yang Mahakasih, kita sebenarnya punya modal yang sangat besar, yang beberapa di antaranya tidak dimiliki oleh kelompok agama besar lainnya. Pertama, seluruh mazhab dan kelompok di dalam Islam memiliki prinsip dan rukun iman atau aqidah yang sama, seperti kepercayaan kepada tauhid, kenabian, kitab suci, dan hari akhir. Selain itu, mereka juga meyakini hal-hal yang sama menyangkut rukun Islam. Semua sepakat tentang wajibnya shalat, zakat, puasa, haji, berjihad, dan sebagainya. Semua kelompok juga sepakat tentang haramnya berzina, minum khamar, mencuri, dan sebagainya

Ummat Islam dari beragam golongan ini melaksanakan tata-cara beribadah dengan aturan yang secara umum sama. Contohnya adalah haji. Tidak ada satupun kelompok atau madzhab yang punya pendapat bahwa untuk berhaji kita diperbolehkan melaksanakannya di tempat selain Mekah. Juga shalat, semua sepakat bahwa shalat itu menghadap kiblat (Ka’bah).

Hal lain yang mempersatukan ummat Islam adalah yang terkait dengan ajaran akhlak. Semua kelompok dan madzhab sepakat bahwa rendah hati, bertutur sopan, dan peduli terhadap sesama adalah ajaran agama. Tidak ada satupun kelompok yang memiliki keyakinan sebaliknya.

Yang juga sangat menakjubkan adalah kecintaan ummat Islam dari beragam golongan dan kelompok ini kepada Rasulullah. Jarak dan waktu yang berbeda jauh dengan Rasul tak mengurangi sedikitpun tingkat kecintaan seluruh ummat Islam kepada Nabi Muhammad SAW. Nama itu sedemikian agung dan sakral. Sedikit saja penghinaan kepada beliau akan menorehkan luka di hati secara massal di kalangan ummat Islam. Seluruh ummat Islam dipersatukan dengan cinta kepada Baginda Nabi.

Kini, hari lahir Nabi telah tiba. Perbedaan pendapat mengenai tanggal lahirnya beliau (ada yang menyebut tanggal 12, sedangkan sebagian menyebutnya tanggal 17 Rabiul Awwal) sama sekali tidak menjadi halangan bagi ummat Islam untuk merayakan hari lahir manusia mulia ini dengan antusiasme yang tak pernah lekang ditelan zaman. Bahkan, di beberapa tempat dunia, perbedaan ini melahirkan ide untuk menggelar Pekan Persatuan Ummat Islam.

Wahai kaum Muslimin sedunia, di hari peringatan hari lahir Baginda Nabi ini, bersatulah! (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*