pemilu2Kecintaan yang sangat besar Imam Syafi’i kepada keluarga Nabi menuai ujian yang cukup berat. Ia dituduh penguasa Bani Abbasiyyah sebagai Syiah Rafidhah yang mengobarkan pemberontakan. Berbagai teror dan cercaan diterima Imam Syafi’i. Tapi kecintaan dan penghormatannya kepada Ahlul Bait Nabi tak pernah ia lepas. Bahkan, tanpa rasa takut sedikitpun, Imam Syafi’i menguntai syair yang terkenal itu: In kaana rafdhan hubbu aali Muhammad, fal yasyhadits-tsaqalaani annii raafidhii –sekiranya kecintaan kepada keluarga Muhammad adalah ciri Rafidhah, maka saksikanlah wahai jin dan manusia, inilah aku seorang Rafidhi. Maka, Imam Syafi’i pun digelandang dengan kaki dirantai, dari Yaman menuju Baghdad. Ia hampir dihukum mati. Tapi, Allah berkehendak lain. Imam Syafi’i selamat berkat kemampuannya dalam menyampaikan eksepsi (pembelaan diri).

Ulama besar dunia Islam itu hampir saja menjadi korban sebuah model konspirasi yang di dunia Kristen disebut blasphemy dan di kalangan muslim diistilahkan takfirisme. Lawan politik dihancurkan dengan cara menyebarkan tuduhan bahwa orang tersebut sesat atau kafir. Modus serupa juga dilakukan oleh Zionis Israel. Di Eropa, seseorang akademisi atau politisi yang berani mengkritik Zionis atau mengutak-atik catatan sejarah Holocaust, tuduhan anti-Semit akan segera dilemparkan kepadanya. Dituduh sebagai anti-Semit di Barat akan membuat karir seorang akademisi atau politisi jadi terancam. Bukan hanya itu, mereka bisa jadi akan menghadapi pengadilan. Roger Garaudy misalnya. Sejarawan Perancis ini diseret ke pengadilan dengan dakwaan anti-Semit dan dikenai denda 240.000 franc.

Dulu, ketika Orde Baru berada di puncak kekuasaannya, cara-cara barbar ala blasphemy atau takfirisme ini juga marak dengan menggunakan isu PKI. Siapa saja yang kena tuduhan PKI atau komunis, akan tamat riwayat karirnya, dikucilkan oleh masyarakat, dan sebagian dijebloskan ke penjara. Bahkan sampai ke anak cucu mereka pun menerima stigma ‘sesat’.

Sayangnya, pasca Orba, metode penyesatan ini masih terus dipakai dalam dunia politik Indonesia. Kemudahan akses jejaring sosial membuat upaya para oportunis politik dan penghamba uang untuk melibas lawan mereka semakin mudah. Bila dulu komunis jadi ‘musuh’, kini agama yang dijualbelikan. Dengan menumbuhkan sentimen anti-Kristen, anti-Ahmadiyah, anti-Syiah, mereka berusaha meraih keuntungan politik. Capres X punya istri Katolik. Capres Y anak tokoh Ahmadiyah. Atau yang paling ‘hot’ akhir-akhir ini, ucapan seorang yang dianggap ulama: kalau capres Z menang, Indonesia akan jadi negara kafir.

Padahal, sikut-sikutan politik dengan metode penyesatan ini sebenarnya adalah pembodohan umat. Nilai kemanusiaan dicampakkan, akhlak dihempaskan, dan logika dilecehkan. Rakyat sama sekali tidak dikondisikan untuk mengenali cara berpolitik yang cerdas dan Islami. Mengkritik lawan seharusnya dengan data dan argumen yang cerdas, bukan dengan tuduhan membabi-buta atau fitnah. Ulama seharusnya berperan dalam meredam cara buruk ini, bukan malah memprovokasi. Pada hakikatnya, model penyesatan seperti ini justru malah menyesatkan ummat. (Editorial/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*