LiputanIslam.com –Dunia berduka dan marah atas aksi teror di Christchurch, Selandia Baru, Jumat 15 Maret 2019. Sejumlah orang yang menenteng senapan menyerbu dua masjid yang ada di kota itu, yaitu Masjid Noor di Deans Avenue dan Masjid Linwood di Linwood Avenue. Kaum Muslimin yang sedang melaksanakan ibadah salat Jumat menjadi sasaran serangan brutal. Hingga kini, sudah 50 orang diberitakan tewas akibat serangan tersebut.

Motif tindakan terorisme itu sendiri sudah cukup jelas. Ini adalah tidakan terorisme yang berasaskan kepada rasisme, yaitu keyakinan keunggulan ras (dalam hal ini adalah kulit putih). Di sisi lain, tindakan biadab ini juga menjadikan orang-orang Islam sebagai objek serangan. Bagi pelaku, kaum Muslimin adalah orang-orang yang berbahaya dan harus dilenyapkan. Inilah yang secara sederhana disebut sebagai sindrom Islamophobia.

Salah seorang pelaku aksi ini adalah warga negara Australia bernama Brenton Tarrant. Dialah yang menyiarkan rekaman serangannya secara langsung melalui Facebook. Sebelumnya, Tarrant mengumumkan manifesto yang menyebut imigran sebagai penjajah. Menariknya, dalam menifesto itu, Tarrant memuji Presiden AS Donald Trump sebagai simbol identitas kulit putih dan simbol tujuan bersama. Artinya, bagi Tarrant, Trump adalah idola dan sumber inspirasi. Saat mengidolakan Trump, Tarrant merujuk kepada serangan gencar terhadap imigran, terutama orang-orang dari negara Muslim, yang merupakan inti dari kebijakan America First Presiden Trump.

Aksi biadab terorismne tersebut memang dikecam oleh pemerintah AS. Akan tetapi, terkait dengan “ideologi nasionalisme ras kulit putih” yang melatarbelakangi aksi terorisme itu sendiri, Trump menanggapinya dengan santai. Ia menolak gagasan bahwa gerakan ekstremisme kulit putih dengan sasaran ras dan agama lain sebagai ancaman. Baginya, peristiwa Christchurch tak lebih dari ulah sekelompok kecil orang yang punya masalah psikologi serius. Dengan bahasa lain, bagi Trump, aksi terorisme itu hanyalah ulah oknum yang terlalu ekstrem dalam memaknai dan mempraktekkan rasisme kulit putih dan Islamphobia. Adapun ideologinya sendiri legal dan mulia.

Keyakinan senada disampaikan oleh Senator Australia Fraser Anning. Dalam sebuah cuitan di medsos, Anning malah menyampaikan blaming of the victim, alias prinsip menyalahkan korban. Alih-alih berduka atas peristiwa serta menyampaikan simpati kepada korban, Anning malah menyalahkan imigran Muslim sebagai penyebab peristiwa teror. Menurutnya, kalaulah tidak ada “serbuan” kaum imigran Muslim di Australia, Selandia Baru, dan negara-negara “kulit putih” lainnya, tak akan ada kebencian dan kecemburuan dari kelompok yang ia sebut sebagai kaum nasionalis kulit putih.

Rasisme adalah hal yang sangat tercela dan sama sekali tidak rasional. Rasisme tidak hanya membela kepentingan kelompoknya saja. Bahaya rasisme ada pada pembenaran atas setiap tindakan yang dilakukan oleh kelompoknya, meskipun kelompoknya itu berada dalam posisi atau melakukan tindakan buruk. Akal, hukum, HAM, konvensi, dan etika dikesampingkan. Yang menjadi prioritas adalah ras. Bahkan, semua aturan hukum harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip keunggulan ras.

Adapun Islamophobia itu sendiri adalah bagian dari politik imperialisme Barat. Perhatikanlah, ketika muncul sentimen negatif terhadap Islam, hampir pasti yang dimunculkan sebagai contoh adalah kelompok-kelompok ekstrem semisal Al-Qaeda, ISIS, Jabhah Al-Nusra, dan yang semisalnya. Padahal, pembentukan dan aktivitas kelompok-kelompok itu sendiri diinisiasi serta didanai oleh Barat. Padahal, takfirisme sebagai landasan teologis kelompok itu tumbuh subur di negara-negara seperti Arab Saudi yang menjadi sekutu-strategis AS.

Jumlah kelompok-kelompok ekstrem ini sebenarnya sangat minor. Akan tetapi, tindakan merekalah yang terus di-blow up oleh media Barat hingga terkesan bahwa mereka adalah representasi ajaran Islam. Maka, wajah Islam pun menjadi buruk. Lebih jauh lagi, kemunculan kelompok takfiri ini juga berdampak kepada kalangan internal ummat Islam. Prinsip mudah menjatuhkan vonis kafir mau tidak mau akan menciptakan perpecahan tragis di antara kaum Muslimin.

Aksi terorisme di Selandia Baru adalah tindakan terkutuk. Tapi kita juga harus mengutuk rasisme dan Islamophobia sebagai faktor ideologisnya. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*