LiputanIslam.com –Kasus teror penusukan Menkopolhukam Wiranto menjadi berita terheboh di Indonesia dalam beberapa hari terakhir ini. Mungkin dalam jangka empat dekade terakhir, baru kali ini ada seorang pejabat tinggi negara yang menjadi korban aksi teror. Tak main-main, pejabat tersebut adalah seorang menteri yang membidangi masalah keamanan, juga seorang jenderal purnawirawan dan mantan panglima TNI.

Memang dikabarkan bahwa si pelaku melakukan tindakannya itu secara acak. Ia tidak secara khusus menyasar Wiranto sebagai pejabat sangat penting di negeri ini. Ia bahkan tak tahu bahwa yang akan datang ke tempat ia melakukan operasi teror itu adalah Wiranto. Akan tetapi, tetap saja kejadian ini membuat kita semua  prihatn dan waspada. Satu hal yang jelas: para teroris itu memang nyata dan masih bergentayangan di negeri ini.

Hampir bisa dipastikan bahwa pelaku penusukan yang berinisial SA itu adalah seorang anggota jaringan teroris yang berafiliasi ke ISIS. Motif aksinya itu juga sudah pasti, yaitu aksi teror, dan apa yang dilakukan SA itu merupakan kelanjutan dari rangkaian aksi teror yang dilakukan oleh kelompok ISIS ini. Artinya, meskipun di Suriah dan Irak kelompok ISIS ini bisa dikatakan sudah ‘habis’, di Tanah Air, mereka masih eksis.

Memang, sangat disayangkan bahwa ISIS telah berhasil menarik simpatisan yang cukup banyak di negeri ini. Cukup banyak orang, bahkan mereka yang berasal dari kalangan akademisi hingga TNI dan Polri, yang terpapar ideologi sesat ini. Dengan bermodalkan berita-berita bohong, foto-foto dan video hoax, serta narasi sektarian yang dipenuhi ujaran kebencian, ISIS berhasil menarik perhatian dan menuai simpati banyak orang.

Padahal, ISIS adalah sebuah ideologi dengan sejumlah karakteristik yang sangat mengerikan. ISIS menghalalkan hoax, menebar kebencian, ultra sektarian, serta merekomendasikan aksi-aksi pembunuhan hingga bom bunuh diri. Akibatnya, di manapun ISIS dan pemikiran yang seideologi dengannya tersemai, muncullah instabilitas, kekacauan, disintegrasi, dan prahara dengan tingkat destruktivitas yang sangat tinggi.

ISIS adalah gerakan anti peradaban, anti kebangsaan, anti kemanusiaan, dan artinya, mencabik-cabik kehormatan agama. Islam yang mereka pakai sebagai kedok, juga isu jihad yang mereka gembar-gemborkan, semuanya adalah palsu dan menyesatkan. ISIS adalah ancaman bagi martabat agama, kemanusiaan, serta kehidupan berbangsa dan bernegara. ISIS adalah ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kasus teror penusukan ini selayaknya menjadi pelajaran bagi kita, tentang betapa selama ini, kita masih tidak cukup waspada dalam menyikapi fenomena terorisme berkedok jihad. Kita harus akui, bahwa sempat terjadi pembiaran terhadap gerakan mereka, di saat gerakan tersebut masih berupa gejala dan indikasi; dan bahwa cukup banyak petualang politik yang menjadikan kelompok-kelompok intoleran itu sebagai salah satu alat untuk memenuhi syahwat politik mereka yang rendah. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*