banjirEditorial, liputanislam.com—Polemik tentang kicauan seorang ibu terhormat yang menjadi bulan-bulanan di media sosial; disambung dengan pernyataannya bahwa ‘banjir adalah fenomena alam belaka’ terasa menggelikan. Seolah-olah, bencana ini salah alam.

Tuhan menciptakan makhluk hidup dan benda mati. Secara teologis, beragam persoalan besar yang terkait dengan fenomena ekologis seperti yang kita lihat sekarang ini, tidak terkait dengan alam. Alam tak akan pernah dimintai pertanggungjawaban secara teologis oleh Tuhan. Bagaimana mungkin meminta pertanggungjawaban kepada benda mati?

Secara teologis pula, jika ada fenomena bencana alam, seperti banjir masif yang terjadi akhir-akhir ini, ada beberapa sebab kemungkinan. Pertama, mungkin karena ulah manusia yang telah merusak ekosistem. Di sini, alam hanyalah merespons. Bencana hanyalah pantulan atas perilaku ekologis manusia. Karena alam disakiti, maka ia balas manyakiti. Perilaku yang direspons bisa jadi bukan tanggung jawab manusia generasi sekarang. Kebanyakan malah ulah orang terdahulu. Jika ini yang terjadi, para perusak ekosistem harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Hati-hatilah para pembabat hutan, pembangun vila di kawasan perbukitan tadah hujan, para pembangun mal di daerah resapan, juga orang-orang serakah yang mendesak kaum marjinal hingga tidak punya pilihan, kecuali membangun pemukiman di bantaran sungai, agar bisa bertahan hidup! Hati-hatilah, karena kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap nyawa yang melayang dan kerugian lainnya yang diakibatkan oleh bencana banjir. Kalian akan dikejar sampai ke liang kubur!

Kemungkinan kedua, bencana ini muncul sebagai hukuman Tuhan kepada perilaku dosa dan maksiat manusia. Dalam konteks agama, model hubungan “dosa-bencana” ini adalah hal yang sangat jelas. Para ulama sudah banyak menjelaskan hubungan di antara keduanya. Dikatakan bahwa sebenarnya, hubungan ini lebih bersifat umum lagi, karena tidak hanya terkait dengan perilaku buruk, melainkan juga perilaku baik. Silaturahmi bisa memanjangkan usia; ketakwaan suatu kaum bisa menurunkan rezeki dari langit kepada kaum itu; dan seterusnya. Dari sisi ini, respons terbaik adalah introspeksi. Kita perbaiki perilaku kita secara bersama-sama. Jika kita yakin ada kesalahan yang kita lakukan, jelas kita harus bertobat.

Tapi ada juga kemungkinan ketiga, yaitu bahwa bencana ini memang murni fenomena alam yang diskenariokan oleh Allah. Para ilmuwan menemukan fakta bahwa pergeseran lapisan tanah pada fenomena gempa bumi memang diperlukan demi sebuah kebaikan yang lebih besar bagi bumi. Jadi, ini memang murni kehendak Tuhan. Ini sama dengan fenomena kematian yang menimpa orang baik. Kematian itu bencana bagi orang tersebut dan juga bagi keluarganya. Tapi, fenomena kematian adalah harga yang harus ditebus untuk kebaikan yang lebih besar. Apa itu? Tercegahnya orang itu dari siksaan fisik di masa tua; atau untuk mengurangi populasi ummat manusia (bayangkan, betapa sesaknya bumi ini jika manusia sejak zaman Nabi Adam masih hidup!); dan juga dalam rangka penyegaran peradaban (bayangkan, jika kita harus berinteraksi secara intens dengan mereka yang masih menulis di atas perkamen papyrus!).

Jika kemungkinan ketiga ini yang terjadi, tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh orang yang terkena imbas bencana kecuali bersabar. Tuhan sudah memberikan solusi teologis bagi orang yang terkena imbas bencana, yaitu berupa pahala dan bergugurannya dosa-dosa.
Alam tak pernah salah. Semuanya kembali kepada manusia, baik secara lahir ataupun batin. Sayangnya, kebanyakan dari kita sering keliru membaca fenomena teologis. Lebih buruk lagi, fenomena bencana seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang oportunis untuk kepentingan syahwat mereka. Ada yang melakukan pencitraan demi pemilu; dan ada juga yang melakukan intrik untuk menurunkan citra orang lain, demi menggusur elektabilitas orang itu. Inilah perilaku dosa yang direspons dengan dosa yang lain.(by)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL