nerakaMenjelang hari pencoblosan pemilihan presiden tanggal 9 Juli mendatang, bayang-bayang kegelapan menyelimuti kehidupan politik bangsa Indonesia. Pemilu yang disebut-sebut sebagai pesta demokrasi itu terancam akan tercemari lumpur bernama politik uang. Pengalaman pemilu legislatif April lalu, atau berbagai pemilu kepala daerah sebelumnya, menunjukkan kepada kita bahwa hantu politik uang itu memang ada. Saat pilpres ini, potensi bergentayangannya hantu-hantu politik uang itu juga tetap sangat besar.

Jika masalah kampanye negatif atau kampanye hitam bertabrakan dengan prinsip akhlakul karimah maka politik uang sudah jauh menerabas sisi-sisi etika. Politik uang sudah masuk ke jantung wilayah fiqih. Penjelasan Rasulullah SAW terkait perilaku ini sangat terang benderang dan sudah dikategorikan ke dalam salah satu masalah fiqih.

Salah satu bentuk politik uang yang paling banyak dibicarakan saat ini adalah suap-suara. Di sini, Anda sebagai pemilik suara akan didatangi timses salah satu calon. Kepada Anda ditawarkan sejumlah uang dengan syarat Anda mau mencoblos calon tertentu. Preferensi pilihan tidak lagi didasarkan kepada kapasitas calon, melainkan kepada ada atau tidak adanya uang yang dibayarkan kepada Anda. Bahkan yang lebih mengerikan, preferensinya didasarkan kepada siapa yang berani membayar lebih banyak kepada Anda.

Perilaku seperti ini dalam literatur agama Islam punya istilah tersendiri: risywah. Dan sejak dahulu, perilaku ini sudah diidentifikasi sebagai pekerjaan setan dengan ancaman neraka. Sabda Rasul sangat jelas: “Ar-Raasyii wal-murtasyii fin-naar (Penyuap dan yang disuap tempatnya di neraka).” Jadi, dalam pandangan Islam, dosa tidak hanya dipikul oleh pihak yang menyuap (rasyi). Pihak yang disuap pun (murtasyi) terkena dosa, dan tempat keduanya adalah neraka.

Kemudian, salah satu waham (ilusi) yang dihembuskan setan, dan beberapa kali disampaikan oleh para politisi, adalah prinsip: ambil uangnya, tapi coblos yang sesuai dengan pilihan hati, karena uang itu sebenarnya milik rakyat, dan Anda sebagai rakyat berhak mendapatkannya. Dalam literatur agama, ini pada dasarnya adalah varian tersendiri dari risywah. Pilihan yang berbeda dengan apa yang menjadi klausul saat terjadi transaksi sama sekali tidak membuat uangnya menjadi halal.

Uang yang didapatkan melalui transaksi suap tetaplah haram, mekipun pada akhirnya terjadi keputusan yang berbeda. Ini sama saja dengan uang suap yang diterima petugas kepegawaian dari seorang calon yang tidak layak. Uangnya dia terima, tapi yang dia loloskan adalah orang lain yang lebih layak. Tetap menjijikkan, bukan?

Di sini malah terjadi penambahan bentuk lain dari dosa, karena selain melakukan transaksi suap, pelaku juga melakukan penipuan (gharar). Secara lahiriah, dia jual pilihannya kepada pihak yang mau membayar. Tapi, pada praktiknya ia kemudian menipu si penyuap dengan cara menyalahi apa yang sebelumnya sudah dia janjikan.

Sangatlah ironis jika praktik ini terjadi saat kita semua sedang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, yaitu ketika Allah SWT sedang menebar rahmat, barakah, dan maghfirah-Nya. Jika kita sampai terjerumus ke dalam praktik suap, keberkahan Ramadhan akan betul-betul lenyap bagi kita. Tak akan ada pahala yang diberikan; tak akan ada jawaban atas doa-doa yang kita panjatkan. Justru malah api neraka yang siap menanti.

Rasul yang mulia bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, siapa saja yang memasukkan sekerat daging haram ke perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari; dan siapa saja yang dagingnya tumbuh dari barang haram dan riba maka neraka lebih utama untuk membakarnya.” (HR Muslim, Tirmidzi, Ahmad, dan ad-Darami).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL