LiputanIslam.com  –Isra dan Mikraj Nabi Muhammad  SAW menjadi salah satu hari besar yang dirayakan oleh ummat Islam dunia, termasuk di Indonesia.  Berbagai perayaan dilaksanakan kaum Muslimin, di antaranya dengan cara merenungi kisah perjalanan melangit Sang Nabi, termasuk ketika mata batin Rasulullah dibukakan oleh Allah SWT, menerawang apa yang akan terjadi di alam akhirat nanti. Rasulullah mendapatkan “bocoran” terkait nasib kaumnya pasca hari kiamat nanti.

Kisah penampakan pahala kebaikan surgawi serta siksaan di neraka itu kemudian dicatat dengan baik oleh para ulama sepanjang sejarah, dari generasi ke generasi. Penampakan siksaan neraka disampaikan para ulama untuk mengingatkan kita semua agar merasa takut atas apa yang akan menimpa kita di akhirat kelak, kalau kita tidak menghindari perbuatan buruk  di dunia ini.

Kita kemukakan lagi beberapa jenis siksaan yang dilihat Nabi itu. Sepertinya, banyak di antara kita yang terjebak di dalamnya. Fenomenanya teramat jelas dan terang benderang, tanpa perlu ada penafsiran secara mendalam.

Salah satu siksaan yang dilihat Baginda Nabi adalah orang yang mengumpulkan kayu bakar, dan merasakan beratnya memikul kayu yang ia kumpulkan. Ketika beban yang ia pikul menimbulkan rasa sakit yang mematahkan pungungnya, beban tersebut malah semakin berat, dan makin meremukkan tulang-belulangnya. Jibril lalu menjelaskan bahwa itu adalah siksaan yang akan diterima oleh ummat Nabi Muhammad yang memangku banyak sekali jabatan dan amanah karena keserakahannya. Anda melihat ada orang seperti itu di sekitar kita?

Siksaan lainnya lebih mengerikan. Nabi melihat sekelompok orang yang mengguntingi lidah dan bibir mereka. Setiap guntingan disertai dengan jerit kesakitan. Akan tetapi, setiap kali lidah dan bibir mereka digunting, lidah dan bibir tersebut kembali seperti sedia kala. Mereka melakukan hal tersebut terus menerus tanpa berhenti. Jibril berkata bahwa itu adalah para pengkhutbah dari ummat Nabi. Mereka fasih bicara agama. Akan tetapi, isi khutbahnya menimbulkan fitnah dan keburukan bagi ummat.

Jadi, tidak setiap khutbah pasti akan diapresisasi dengan baik oleh Allah; tidak setiap kefasihan mengutip ayat dan hadis akan dianggap sebagai amal kebajikan; dan tidak semua aktivitas di dalam masjid pasti akan dianggap sebagai kebaikan. Jika khutbah, ayat, hadis, dan masjid itu disalahgunakan untuk kepentingan keburukan, siksaan yang mengerikan itulah akibatnya.

Siksaan lainnya yang dilihat oleh Rasulullah adalah kaum yang mempunyai kuku-kuku dari logam. Mereka mencakari muka dan dada mereka sendiri dengan kuku tersebut. Tentu saja cakarannya itu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Akan tetapi, mereka terus menerus mencakari diri mereka sendiri.

Siapakah mereka itu? Kata Jibril, itu adalah orang yang gagal mengontrol mulutnya dari hal-hal yang buruk. Ia adalah orang yang terbiasa menggunjing dan melecehkan kehormatan orang lain.

Ketiga perilaku di atas dengan sangat mudahnya kita dapati dalam kehidupan kita sehari-hari, bukan? Bahkan, sepertinya, di tahun politik ini, hingga pilpres tahun depan, perilaku-perilaku yang sangat buruk itu akan lebih sering lagi kita temui. Pengalaman di pilpres 2014 serta pilkada (DKI Jakarta) 2017 lalu memberikan gambaran jelas tentang maraknya perilaku-perilaku tersebut. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*