LiputanIslam.com –Jumat, 31 Mei 2019, nama “Al-Quds” kembali diteriakkan secara serentak di berbagai belahan dunia dalam berbagai event demo turun ke jalan. Di Iran, Irak, Lebanon, Suriah, dan Yaman, para pendemo yang turun ke jalan jumlahnya besar, hingga mencapai puluhan juta orang. Sementara di belahan dunia yang lain, meskipun jumlah para pendemo tidak besar (hanya ribuan orang di tiap kota besar), tapi tetap saja, ada demo yang digelar.

Kita semua tahu bahwa Palestina adalah bangsa yang terjajah. Sebagian dari mereka terusir dari tanah air. Mereka yang masih tinggal di negeri mereka pun hidup dalam keadaan sangat mengenaskan. Kemiskinan, kelaparan, dan teror merupakan peristiwa sehari-hari yang harus dihadapi oleh bangsa ini. Dan Al-Quds, tempat suci kaum Muslimin Palestina, diduduki secara semena-mena oleh Israel. Ini adalah fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi oleh siapapun.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembalikan kemerdekaan kepada bangsa Palestina. Hanya saja, salah satu penghalang terbesar dari upaya pembebasan Palestina ini adalah keberadaan sejumah negara Arab di Timur Tengah.

Dari sudut pandang politik internasional, negara-negara Arab itulah yang dianggap memiliki legal standing paling kuat untuk membela Palestina. Secara geopolitik, negara-negara itu paling terdampak dengan krisis Palestina. Jutaan warga Palestina mengungsi ke kawasan mereka, dan menciptakan banyak masalah sosial-ekonomi. Karena itu, negara-negara Arab itu pulalah yang tercatat dalam sejarah pernah beberapa kali mengirimkan pasukannya ke Palestina dan berperang melawan Israel, meskipun akhirnya selalu kalah.

Negara-negara Arab di Timur Tengah juga dikatakan memiliki posisi paling kuat untuk membela Palestina karena mereka berasal dari etnis yang sama, serta berbahasa yang sama. Ditambah lagi dengan fakta bahwa mayoritas dari mereka memiliki agama yang sama, yaitu Islam; agama yang semestinya mempersatukan semua pengikutnya menjadi satu saudara. Bukankah di dalam Al-Quran dikatakan bahwa sesungguhnya kaum Muslimin itu bersaudara?

Hanya saja, sudah sejak lama, harapan bangsa Palestina terhadap negara-negara Arab Muslim itu agaknya terlalu berlebihan. Mereka sebenarnya tak bisa diharapkan lagi untuk menjadi pembela Palestina. Negara-negara Arab tersebut sejak lama menyatakan diri sebagai sekutu dekat AS. Sementara itu, para pemimpin AS selalu saja berikrar untuk membela kepentingan Israel. Para pemimpin AS secara terang-terangan selalu menyatakan bahwa kepentingan nasional Israel identik dengan kepentingan nasional AS.

Dengan posisi seperti itulah, keterdampakan sosial-ekonomi atas krisis Palestina, juga penderitaan saudara-saudara seetnis dan seagama, hanyalah memantik rasa simpati yang samar-samar dan akhirnya hilang ditelan zaman. Tak ada pembelaan yang sungguh-sungguh terhadap Palestina. Mereka hanya bersidang dan bersidang, tanpa menghasilkan kesepakatan bersama yang kongkrit dan matang untuk membebaskan Palestina.

Negara-negara Arab itu dengan mudahnya diiming-imingi dengan kedudukan dunia yang rendah dan tak seberapa. Dengan ketamakannya, mereka dengan mudahnya tergoda. Mereka juga dengan mudahnya digertak, diancam, dan ditakut-takuti. Mereka seperti keledai yang dengan mudahnya dikendalikan lewat ancaman dan imbalan. Dalam istilah Hillary Clinton, negara-negara Arab Muslim itu mudah dikendalikan dengan cara “sticks and charrots –tongkat dan wortel”.

Bangsa Palestina, Dunia Islam, dan masyarakat Dunia yang memiliki rasa empati terhadap kemanusiaan, sudah sangat gerah dengan situasi seperti ini. Nasib bangsa Palestina tidak cukup hanya dipercayakan kepada proses diplomasi yang melibatkan negara-negara Arab; proses diplomasi yang hanya dipenuhi dengan kehinaan. Diplomasi tak akan mungkin bisa mencapai hasil yang diharapkan jika dipercayakan kepada kaum pecundang.

Solidaritas Al-Quds pada dasarnya adalah sebuah upaya membela Palestina, tanpa pernah mau menjadi pecundang. (os/editorial/liputanislam)

Berita terkait:

Para Pejuang Palestina Serukan Peringatan Hari Al-Quds Internasional

‘Al-Quds Milik Palestina, Bukan AS atau Israel’

Al-Quds adalah Luka di Hati Tiap Manusia Merdeka

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*