LiputanIslam.com –Detak Ramadhan mendekati masa-masa akhir. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, hari-hari terakhir di bulan Ramadhan diwarnai dengan even politik, yaitu pawai Solidaritas Al-Quds. Inilah even di mana nasib bangsa Palestina kembali dibicarakan.  Seperti yang disampaikan oleh penggagas demonstrasi peringatan Hari Al-Quds, Imam Khomeini, demo akan terus digelar sampai terbebasnya Palestina dari cengkeraman Israel.

Demo solidarits Al-Quds digagas secara khusus karena persoalan Palestina sudah sedemikian parah dan akut. Hingga hari ini, penjajahan Zionis Israel atas Palestina sudah berlangsung 69 tahun. Selama puluhan tahun ini, penduduk bumi  tak mampu berbuat apapun saat menyaksikan pembantaian, pengusiran, dan kebiadaban lainnya yang dipraktekkan secara terang-terangan oleh Israel dan sekutu-sekutu pendukungnya.

Siapapun yang mengaku sebagai pejuang Islam, sejatinya tak boleh merasa berpuas diri atas hasil perjuangan apapun yang sudah diperoleh, selama Bumi Palestina masih dikangkangi oleh Zionis Israel; selama jutaan warga Palestina masih terlunta-lunta, menjadi pengungsi tanpa kejelasan nasib mereka.

Hari Solidaritas Al-Quds adalah moment pengingat tentang salah satu tugas penting yang melekat pada setiap individu Muslim, yaitu memiliki kepedulian kepada sesama orang Islam. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang terbangun di pagi hari, lalu dia tidak memperhatikan urusan umat Islam, dia bukan merupakan bagian dari umat Islam. Siapa saja yang mendengar seorang Muslim lain berteriak (meminta tolong): ‘Wahai orang Islam!’, lalu dia tidak memerhatikan seruan teriakan itu, maka dia bukanlah seorang Muslim.”

Kita yakin bahwa pada akhirnya, cepat atau lambat, Al-Quds akan terbebas dari cengkeraman Zionis. Itulah janji Allah yang pasti terjadi. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan buat adalah: apakah peran kita dalam proses kemenangan bangsa Palestina itu? Apalah kita termasuk orang yang ikut memperjuangkannya secara konsisten? Ataukah kita hanya bisa sekedar menunjukkan rasa simpati dari balik jendela, tanpa berbuat apapun juga? Ataukah kita termasuk yang tertipu sehingga orientasi perjuangan kita beralih dari pembelaan terhadap Palestina menjadi pembelaan terhadap kelompok sektarian? Atau, mungkinkah kita termasuk yang takut dengan ancaman dan stigma buruk yang setiap saat akan disematkan oleh Amerika dan sekutu-sekutunya bagi siapapun yang konsisten membela Palestina?

Solidaritas Al-Quds adalah ekspresi paling minimal untuk menunjukkan bahwa kita adalah pihak yang sangat konsisten mendukung perjuangan saudara-saudara kita itu, sampai terwujudnya hari pembebasan yang menjadi impian kaum Muslimin sedunia. Yaumul Quds adalah hari peneguhan sikap kita untuk menunjukkan pembelaan atas nasib kaum tertindas di seluruh dunia. Lewat hari solidaritas Al-Quds, kita tunjukkan bahwa kita berada di garda terdepan dalam menjalankan kebaikan, apapun risikonya.

Dan, pada akhirnya, solidaritas Al-Quds adalah manifestasi penghambaan kita kepada Allah yang dengan tegas menyatakan bahwa siapapun juga yang tidak menunjukkan kepedulian sosial terhadap sesama, shalatnya pun dianggap sebagai shalat yang lalai; dan orang itu mendapat gelar sebagai “pendusta agama”. (editorial/liputanislam/ot)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL