LiputanIslam.com –Amerika sepertinya belum akan menghentikan petualangannya di Suriah. Baru-baru ini, Kementerian Pertahanan Amerika menyatakan bahwa pihaknya menemukan infomasi adanya pergerakan ISIS di Suriah, dan itu adalah para petempur yang berhasil membangun kekuatannya di Irak. Pentagon juga menyatakan bahwa situasi ini terjadi gara-gara tentara Amerika terlalu cepat ditarik dari Suriah.

Publik dengan mudah membaca bahwa pernyataan Pentagon itu merupakan sinyal bahwa Amerika mempertimbangkan untuk mengirim kembali pasukannya ke Suriah. Lalu, bagaimana tanggapan publik internasional atas pernyataan Amerika itu? Sudah bisa diduga, publik dunia menunjukkan sikap cuek dan skeptis.

Berbagai analisis menunjukkan betapa absurdnya pernyataan Pentagon itu. Misalnya, soal kebangkitan ISIS di Suriah gara-gara pasukan AS ditarik dari negara itu, dan kebangkitan itu disuport oleh ISIS yang katanya masih punya kekuatan di Irak. Pertanyaannya: kenapa ISIS bisa membangun kekuatan di Irak? Bukankah tentara Amerika masih belum ditarik dari Irak?

Katakanlah bahwa ISIS di Irak memang masih mampu membangun kekuatan, dan karena itu, mereka mulai merayap kembali ke Suriah. Fakta bahwa tentara Amerika masih bercokol di Irak justru malah makin memperkuat dugaan bahwa Amerika justru membantu kebangkitan ISIS di Negeri 1001 Malam itu. Jadi, alih-alih melemahkan ISIS, Amerika justru menjadi faktor bangkitnya kelompok teroris itu.

Sebenarnya, opini publik dunia terkait Amerika sebagai dalang di balik kemunculan ISIS sudah lama terbentuk, dan makin ke sini makin menebal. Senjata canggih ISIS yang ternyata diproduksi di Amerika dan Israel, gempuran AS terhadap kelompok-kelompok anti-ISIS, dukungan AS terhadap White Helmets (milisi pro pemberontak berkedok lembaga kemanusiaan), dan juga pernyataan resmi para politisi Amerika bahwa mereka menginisiasi pembentukan kelompok-kelompok teroris adalah bukti-bukti tak terbantahkan mengenai hubungan Amerika dengan ISIS.

Karena itu, ketika Amerika menyampaikan sinyal akan kembali ke Suriah dalam rangka menumpas ISIS, yang muncul adalah sikap skeptis. Publik dunia mencibir rencana Amerika itu. Amerika sudah kehilangan kepercayaan sampai ke titik yang sangat rendah.

Bahkan sikap skeptis ini muncul di kalangan sekutu terdekat AS yang sepertinya makin kelelahan dengan petualangan di Suriah. Bagaimanapun juga, petualangan mereka di Suriah bukan hanya meluluhlantakkan negara itu, tapi juga menciptakan kerugian yang sangat banyak di kalangan sekutu Amerika. Sudah terlalu banyak dana yang mereka keluarkan. Tapi, nyatanya, Suriah tidak bisa mereka taklukkan, dan mereka gagal berpesta-pora memungut rampasan perangnya.

Belum lagi kerugian akibat banyaknya imigran Suriah yang menjadi beban ekonomi negara-negara Eropa. Lalu, para petempur “alumni” Suriah saat ini sudah kembali ke negara-negara asal (termasuk Eropa), dan mereka menjadi ancaman teror yang menakutkan.

Dengan semua sikap skeptis para sekutu itu, Amerika ternyata masih tetap menunjukkan gelagat akan meneruskan petualangan absurd di Suriah. Kita di sini ingin mengingatkan Amerika agar negara itu menyudahi saja petualangannya itu. Sudahlah, Amerika! (os/editorial/liputanislam)

Baca:
Kebohongan Besar Perang AS Melawan ISIS

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*