LiputanIslam.com  –Serangan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya baru-baru ini kepada sejumlah titik di Suriah mestinya mengingatkan kita semua tentang sifat kebohongan yang sepertinya sangat sulit dipisahkan dari watak pemerintah Amerika.

Banyak tragedi di dalam sejarah yang dipicu oleh kebohongan dan fitnah. Betapa sia-sianya nyawa melayang dalam jumlah ribuah, bahkan jutaan, padahal pemicu tragedi itu adalah kebohongan. Dalam sejarah modern, Amerika dan sekutunya telah menjelma menjadi aktor pembohong yang telah menciptakan banyak sekali tragedi di berbagai belahan dunia.

Kita tentu ingat bahwa Irak pernah dua kali diinvasi oleh pasukan multinasional di bawah pimpinan Amerika. Pertama, pada tahun 1990, Irak diserang yang menyebabkan kematian ratusan ribu warga sipil. Apa penyebabnya?

Awalnya, Irak yang saat itu dipimpin oleh Saddam Hussein memang melakukan aneksasi terhadap wilayah Kuwait, dan mengklaim negara kecil yang kaya raya itu sebagai provinsinya.  Lalu, beredar berita bahwa saat melakukan aneksasi itu, tentara Saddam melakukan banyak sekali tindakan keji. Salah satu yang kemudian menjadi sangat fenomenal adalah isu pelemparan bayi-bayi dari inkubator. Seorang yang mengaku sebagai perawat rumah sakit di kota Kuwait bernama Nayirah memberikan kesaksian di Kongres Amerika. Maka, seluruh Amerika diliputi gelombang kebencian kepada Irak, dan Bush senior mendapat mandat untuk memimpin pasukan multinasional menyerang Negeri 1001 Malam itu.

Belakangan, ketahuan bahwa Nayirah tak lain adalah puteri dari Dubes Kuwait di Amerika, bukan seorang perawat. Aktingnya di depan Kongres Amerika yang sangat fenomenal adalah hasil latihan berminggu-minggu hingga menciptakan drama.

Serangan Amerika yang kedua dilakukan tahun 2003. Kali ini, yang menjadi presiden Amerika adalah Bush junior. Mandat penyerangan terhadap Irak kali ini didapatkan oleh Bush setelah ia berhasil meyakinkan publik Amerika bahwa Saddam memiliki senjata kimia dan senjata biologis yang mematikan. Tak tanggung-tanggung, Menlu Amerika Jenderal Colin Powell saat itu menyodorkan gambar yang diklaimnya diambil dari satelit, yang menunjukkan peta instalasi pabrik senjata kimia dan bilologis yang dioperasikan oleh rezim Saddam.

Irak pun diluluhlantakkan untuk yang kedua kalinya. Ratusan ribu warga sipil Irak menjadi korban. Infrastruktur hancur lebur, dan hingga kini belum sepenuhnya bisa diperbaiki. Irak menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Warga Irak juga menjadi salah satu warga yang paling banyak mengungsi ke berbagai penjuru dunia, dalam rangka mencari kehidupan yang lebih baik.

Delapan tahun kemudian, yaitu tahun 2011, Bush, Powell, dan para petinggi Amerika lainnya secara terus terang mengatakan bahwa Irak sebenarnya tidak memiliki senjata pembunuh massal. Mereka dengan ringannya membantah bahwa dulu mereka pernah melontarkan tuduhan itu. Ingatan publik mereka coba lawan. Tapi jejak digital tak mungkin bisa dihapuskan.

Di tahun  ketika Amerika mengakui bahwa alasan penyerangan delapan tahun sebelumnya itu tak lebih sebagai isapan jempol, mereka kembali membuat tuduhan baru. Kali ini objeknya adalah negara tetangga Irak, yaitu Suriah. Sejak 2011 hingga kini, publik dunia sangat tidak asing dengan isu “keganasan” rezim Bashar Assad terhadap rakyatnya sendiri. Assad berkali-kali diisukan menggunakan senjata kimia yang mematikan untuk menindas rakyatnya.

Faktanya, sumber berita penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad itu berasal dari lembaga-lembaga partisan semacam White Helmets atau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang ternyata dibentuk dan dibiayai oleh Amerika dan sekutu-sekutunya. Artinya, semua isu itu sama seperti tuduhan-tuduhan sebelumnya yang dilontarkan Amerika, yaitu bersifat sepihak dan belum diverifikasi oleh lembaga-lembaga independen.

Sungguh tangan Amerika dan sekutu-sekutunya selama ini sudah banyak berlumuran darah. Fitnah keji yang mereka lontarkan telah menciptakan tragedi yang sangat memilukan. Siapapun yang seiring sejalan dengan gelombang fitnah ini kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL