LiputanIslam.com –Mata Dunia saat ini kembali tertuju ke Teluk. ARAMCO, salah satu kilang minyak terbesar di dunia milik Arab Saudi, terbakar. Milisi Houthi Yaman menyatakan diri bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Mereka mengklaim bahwa serangan ke kilang minyak yang menggunakan pesawat nirawak itu sebagai bagian dari serangan balasan, karena selama lebih dari empat tahun ini, Arab Saudi membombardir berbagai kawasan di Yaman.

Dunia bereaksi. Umumnya, mereka mengecam serangan milisi Houthi itu. Sebagian pihak, termasuk Amerika, Arab Saudi, dan Israel menuduh Iran berada di balik serangan tersebut. Amerika bahkan menyatakan, serangan itu langsung datang dari kawasan Iran, bukan dari kawasan Yaman. Karenanya, Amerika berencana untuk melakukan serangan ke Iran. Israel lalu menyatakan siap ikut membantu.

Serangan ke ARAMCO memang punya dampak yang signifikan. Arab Saudi terpaksa memangkas ekspor minyaknya hingga 50 %, yang menyebabkan lonjakan harga minyak di pasar dunia. Mudah untuk diduga bahwa kenaikan harga minyak secara mendadak ini menciptakan efek domino bagi perekonomian Dunia.

Dampak krisis diperkirakan makin meluas akibat adanya gertakan Amerika dan Israel untuk menyerang Iran. Di sisi lain, Iran juga dengan lantang menyatakan siap menyambut serangan dari pihak manapun dengan serangan balik. Jika ini terjadi, tentu saja pasokan minyak Dunia akan semakin tersendat, dan akan menciptakan krisis ekonomi yang sangat destruktif.

Serangan terhadap ARAMCO sebenarnya adalah konsekwensi dari keterlibatan Arab Saudi (yang didukung penuh oleh Amerika, Inggris, negera-negara Arab Teluk, dan juga Israel) dalam urusan internal Yaman. Krisis di Yaman diawali ketika Abd Rabbu Mansour Hadi digulingkan oleh milisi Houthi. Hadi lalu mendapatkan suaka politik dari Arab Saudi. Bahkan, Arab Saudi melancarkan serangan mematikan ke arah posisi-posisi milisi Houthi.

Awalnya, banyak pihak yang menprediksi bahwa dengan persenjataan yang super lengkap, sangat mudah bagi Arab Saudi untuk melumpuhkan milisi Houthi. Akan tetapi, fakta berbicara lain. Setelah empat tahun berlalu, milisi Houthi tak juga bisa ditundukkan.

Kegagalan Arab Saudi untuk melumpuhkan milisi Houthi ini juga disertai dengan makin maraknya kecaman dari berbagai lembaga Dunia, karena serangan Riyadh makin lama makin sporadis. Sasarannya malah lebih banyak ke arah warga sipil. Akibatnya, terjadi krisis kemanusiaan yang tiada terkira. Ratusan ribu warga sipil tewas, serta jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal dan menjalani kehidupan dengan cara yang tidak normal.

Menurunnya reputasi Saudi ini diiringi dengan naiknya pamor milisi Houthi. Kelompok Syiah ini semakin kuat dari banyak sisi. Seperti kata pepatah Arab “pukulan yang tak membunuhmu pasti akan membuatmu makin kuat”, itulah yang tampaknya sedang terjadi pada kelompok ini.

Dunia, melalui corong-corong media yang dikendalikan oleh Amerika dan Zionis, boleh-boleh saja menciptakan opini bahwa serangan Houthi terhadap kilang minyak Saudi adalah tindakan biadab. Akan tetapi, jika merunut kepada peristiwa yang melatarbelakanginya, kelompok Houthi punya alasan dan motif untuk menyasar objek-objek ekonomi milik Arab Saudi.

Agaknya, bagi milisi Houthi, serangan terjadap ARAMCO adalah konsekwensi yang harus ditanggung oleh siapapun yang selama ini bertanggung jawab terhadap krisis kemanusiaan yang saat ini tengah berlangsung di Yaman. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*