LiputanIslam.com –Presiden AS Donald Trump Minggu 27 Oktober 2019 tiba-tiba saja menyampaikan pengumuman terkait dengan tewasnya pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi. Pengumuman kematian Al-Baghdadi itu sejatinya mau diseting agar terlihat dramatis. Diberitakan bagaimana Trump menyaksikan secara langsung tayangan operasi pengepungan Al-Baghdadi, yang berakhir dengan ledakan bom yang membunuh pimpinan ISIS tersebut.

Sempat direpon oleh media, akan tetapi sensasi pemberitaan kematian Al-Baghdadi nyatanya hanya sesaat. Media tak lagi banyak membicarakan soal tewasnya pendiri organisasi teror paling mengerikan tersebut. Beberapa tanggapan yang  muncul malah soal skeptisisme atas kebenaran berita yang disampaikan secara sepihak tersebut. Keraguan itu, paling tidak, datang dari PBB, pihak keamanan Rusia, dan masyarakat Suriah.

Skeptisisme terhadap pemberitaan itu adalah bukti makin menguatnya ketidakpercayaan publik dunia atas kejujuran AS. Dunia sudah terlanjur muak dengan intrik-intrik politik perang AS yang dibarengi dengan penyebaran berbagai kebohongan. Presiden George W. Bush pernah berbohong di Irak soal kepemilikan Baghdad atas senjata pemusnah massal tahun 2003. Belakangan, terbukti bahwa klaim kepemilikan senjata itu tak lebih dari isapan jempol.

Sebelumnya, Bush senior juga berbohong soal pelemparan bayi-bayi dari inkubator di rumah sakit Kuwait. Padahal, berita itulah yang menjadi pemicu Perang Teluk tahun 1991. Lalu, sejak sembilan tahun terakhir, AS juga memfabrikasi berbagai berita bohong tentang kekejaman Assad atas rakyat Suriah. Inilah yang memicu datangnya lebih dari 100 ribu jihadis asing ke Suriah dan menciptakan berbagai kerusakan di seantero negeri.

Berita tentang tewasnya Al-Baghdadi itu bisa jadi memang benar adanya. Akan tetapi, Al-Baghdadi dikabarkan tewas dengan kondisi jasad yang berkeping-keping karena ledakan bom. Karena itu, tak ada yang bisa memverikasi kebenaran beritanya, kecuali kita harus percaya begitu saja kepada apapun yang disampaikan oleh Gedung Putih.

Selain akibat adanya krisis kepercayaan dunia terhadap integritas dan kejujuran AS, skeptisisme atas berita tewasnya Al-Baghdadi itu juga diakibatkan oleh kemuakan publik dunia atas hipokritas AS dalam hal pemberantasan terorisme. Terlalu banyak bukti yang menunjukkan bagaimana pembentukan dan pendanaan ISIS serta berbagai organisasi teroris lainnya ternyata selalu terhubung dengan AS dan sekutu-sekutunya di Barat maupun di Arab. Bukankah Al-Qaeda yang menjadi induk dari persemaian berbagai organisasi radikal berkedok jihad Islam itu dibentuk oleh AS, Arab Saudi, dan para sekutu AS? Jadi, seandainyapun benar Al-Baghdadi itu tewas, publik sudah terlanjur memahami bahwa Al-Baghdadi adalah “orangnya” AS. Karena itu, tewasnya Al-Baghdadi (seandainyapun benar demikian), tak lebih dari urusan internal AS. Al-Baghdadi dibunuh karena peranannya sudah selesai. Dia sudah tak lagi dibutuhkan AS. Dia sudah expired.

Skeptisisme yang mengiri berita kematian Al-Baghdadi ini menunjukkan bahwa AS saat ini sudah tidak bisa lagi memainkan playing hero, yaitu berlagak menjadi pahlawan yang bisa mengatasi sebuah bencana. Padahal, bencana itu dibuat oleh dirinya sendiri. Memang, dulu AS sangat berjaya memainkan permainan ini. AS dipuja-puji sebagai pahlawan pemadam kebakaran. Tapi, kini, orang-orang paham bahwa dalam banyak sekali kasus, yang menciptakan kebakarannya adalah AS sendiri. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*