aleppo-liberated-okLiputanIslam.com–Aleppo adalah kota yang indah, dengan penduduknya yang ramah. Di antara kota-kota lainnya di Suriah, Aleppo adalah kota tertua. Sebagaimana di tempat-tempat lainnya, sebuah kota tua yang terpelihara biasanya menciptakan aura damai bagi penduduk yang mendiaminya. Begitu pula yang selama ini terasa di kota Aleppo.

Akan tetapi, kedamaian dan keindahan itu lenyap sejak sekitar empat tahun yang lalu. Aleppo tiba-tiba saja dibanjiri para kombatan asing yang menamakan diri sebagai mujahidin dari sekitar 100 negara dunia. Sebenarnya, para kombatan itu juga membanjiri kota-kota penting Suriah lainnya, seperti Palmyra dan Idlib. Akan tetapi, Aleppo adalah markas terbesar kelompok-kelompok bersenjata tersebut.

Aleppo betul-betul luluh lantak. Ketika kelompok-kelompok itu merebut Aleppo, mereka melakukan segala macam kerusakan yang mungkin dilakukan. Mereka menghancurkan situs-situs peradaban sangat berharga, meledakkan bangunan peribadatan, menjarah pabrik, memenggal kepala warga sipil, dan lain sebagainya. Maka, puluhan ribu warga Aleppo pun menjadi pengungsi di negaranya sendiri.

Setelah empat tahun berlalu, warga Aleppo kembali ke kota mereka. Bersama tentara pemerintah yang dibantu oleh Rusia (dan Hizbullah Lebanon), mereka bahu-membahu mengusir para kombatan asing itu. Dan mereka menang! Rakyat pun bergembira. Mereka turun ke jalanan, berpawai berkeliling kota seperti sedang melakukan victory lap. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ummat Kristiani Aleppo kembali bisa merayakan Natal dengan penuh keriangan.

Anda yang selama ini menjadi pengikut fanatik narasi media mainstream dunia boleh saja mencibir deskripsi di atas. Tapi, hanya ini yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di balik beragam video dan gambar yang saat ini sedang viral di media-media sosial. Bahkan media-media mainstream Barat pun tak bisa membendung ledakan euforia warga Aleppo yang bersuka cita itu.

Media-media Barat yang selama ini berusaha keras menggambarkan bahwa rakyat Suriah (termasuk Aleppo) adalah korban kekejaman Assad, kini mereka mulai menyuarakan narasi yang betul-betul berbeda. Mereka kini mulai menyebut bahwa rakyat Suriah adalah korban kebrutalan kelompok teroris (narasi yang selama ini secara konsisten disuarakan oleh LiputanIslam). Mereka bahkan mulai menyeru dunia untuk memberikan bantuan kepada  Assad.

Gegap gempita kemenangan dan keceriaan warga Aleppo itu perlahan namun pasti mulai melibas sisa-sisa suara-suara para kombatan yang sangat gencar menyuarakan ‘Save Aleppo’. Ditambah dengan semakin terungkapnya fakta bahwa segala macam bantuan yang digalang itu ternyata jatuhnya ke tangan kelompok-kelompok teroris, bukan rakyat Suriah. Maka, makin tenggelamlah suara kaum teroris itu. Tagar ‘Save Aleppo’ mulai berganti dengan tagar ‘Aleppo is Save’ atau ‘Aleppo is Liberated’ (Halab Tataharrar).

Untuk semua perjuangan dan kesabaran warga Alepo, kita harus mengucapkan selamat. Untuk denyut nadi kehidupan yang mulai berdetak di kota Aleppo, kita harus mengucapkan selamat. Untuk sebuah tekad kuat membangun kembali negeri dari puing-puing reruntuhan, kita harus mengucapkan selamat.

Tentu saja, perjalanan mereka masih sangat panjang. Masih banyak kota lain di Suriah yang belum bebas dari cengkeraman kaum pemberontak. Belum lagi hal yang harus diwaspadai adalah tipudaya Barat yang sangat mungkin memiliki rencana busuk di balik perubahan narasi mereka itu. (fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL