suriahWaktu terus bergulir, dan tiba-tiba saja, catatan waktu menunjukkan bahwa sudah hampir empat tahun lamanya krisis Suriah berlangsung. Negeri yang dikenal sebagai tempat lahirnya peradaban-peradaban besar dunia itu kini luluh lantak didera perang berkepanjangan. Korban yang tewas akibat perang tersebut sudah menembus angka 200.000 orang.

Apa yang menyebabkan tragedi ini sampai terjadi? Jawabannya akan sangat bergantung kepada siapa yang kita tanya. Jika hal itu ditanyakan kepada Amerika, Israel, Turki, dan negara-negara monarki Arab, jawabannya adalah: ini semua akibat kekejaman Rezim Bashar Assad, yang menindas rakyatnya. Assad yang Syiah dan kejam menindas kaum oposisi Sunni. Untuk itulah maka, pihak-pihak tersebut kemudian memberikan bantuan kepada sejumlah pihak yang disebut sebagai kelompok oposisi agar mereka bisa menumbangkan pemerintahan Assad. Bantuan tersebut sangat beragam, dari mulai finansial, fasilitas, konsultasi strategi, hingga bantuan senjata.

Belakangan, baru terungkap secara nyata kepada publik dunia bahwa apa yang disebut sebagai kelompok “oposisi” itu ternyata adalah orang-orang asing yang didatangkan dari luar, alias bukan warga negara Suriah. Rami Abdel Rahman, Direktur Observatorium Suriah yang berbasis di Inggris, misalnya, memberitakan bahwa ratusan ribu orang asing diimpor ke Suriah untuk menumbangkan Assad, dan lebih dari 130.000 orang di antaranya tewas dalam berbagai pertempuran.

Tiba-tiba saja keberadaan kaum militan asing itu menjadi sesuatu yang harus diterima oleh publik dunia, dan fenomena yang seolah-olah bersifat independen. Ketika kelompok yang menyebut dirinya ISIS (atau IS) belakangan memproklamirkan diri, publik dunia seakan lupa bahwa kelompok tersebut tidak lahir dari udara kosong, melainkan mewujud dalam sebuah konteks yang berjalin berkelindan dengan AS dan sekutu-sekutunya.

Bahkan ketika indikasinya masih sangat jelas, publik seperti tidak peduli. Lihatlah ketika foto konvoi kemenangan kelompok ISIS dengan jelas menunjukkan bahwa mereka menggunakan fasilitas NATO (misalnya mobil bak terbuka merek Toyota), sangat sedikit yang mau menghubungkan indikasi sangat jelas ini dengan peran AS dan sekutunya di balik deklarasi dan kesuksesan ISIS.

Lalu, situasi berubah. Kelompok yang tadinya digadang-gadang akan mampu menumbangkan Assad itu ternyata malah menunjukkan watak kebrutalan tak terperi. Dunia serempak mengutuk mereka. Dan anehnya, ketika AS dan sekutu-sekutunya berbicara mengenai program perang melawan ISIS, dunia juga seperti menerimanya tanpa melihat adanya kontradiksi dari sikap-sikap AS tersebut. Dunia seakan tidak mencium gelagat sandiwara dalam tindak-tanduk mereka.

Pertanyaan ini sederhana, tapi sangat penting: Apakah AS berkepentingan dengan keberadaan ISIS atau tidak? Jika jawabannya adalah “tidak”, tentu ini kontradiktif dengan proses kelahiran ISIS. Jawaban “tidak”betul-betul a-historis, alias menabrak logika sejarah. Jika jawabannya adalah “ya”, itu berarti Anda jangan pernah percaya segala slogan omong-kosong tentang tindakan pemberantasan ISIS.

Perhatikanlah betapa sangat setengah hatinya AS dalam operasi perang melawan ISIS ini. Meskipun AS memiliki amunisi yang lengkap serta kemampuan strategi perang yang andal, mereka tak pernah bisa mengalahkan ISIS. Brett McGurk, Deputi Penasihat Menteri Luar Negeri AS, misalnya, menyatakan bahwa perang melawan kelompok teroris ISIS sangat sulit dan membutuhkan waktu.

Amerika terus bersandiwara, dan jutaan nyawa manusia terus melayang sia-sia. (editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL