rudalHantaman rudal balistik yang dilontarkan oleh milisi Al-Houthi Yaman terhadap Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, menandai fase baru konflik antar dua negara. Bagi Arab Saudi, peristiwa ini menjadi tantangan yang sangat berat. Di satu sisi, adanya serangan udara dari pihak Al-Houthi makin memperjelas “gelagat kegagalan” operasi militer mereka terhadap Yaman.

Saat Operasi Badai Mematikan (nama sandi operasi militer “penumpasan” milisi Al-Houthi) digelar, Arab Saudi sangat optimis bahwa milisi Al-Houthi akan dengan mudahnya disapu bersih. Optimisme ini sangat beralasan. Milisi Al-Houthi hanyalah rakyat sipil yang memiliki senjata seadanya. Sedangkan Arab Saudi menghadapi milisi tersebut dengan menggunakan militer bersenjata canggih. Arab Saudi bahkan mendapatkan bantuan dari negara-negara Teluk serta sekutu terdekatnya, Amerika Serikat.

Apa yang bisa dilakukan Al-Houthi  menghadapi koalisi militer yang sangat kuat tersebut? Memang ada isu bahwa Al-Houthi dibantu oleh Iran. Tapi, pertama, isu tersebut tak pernah terbukti. Dan kedua, seandainya pun benar demikian, tentu bantuan yang diberikan Iran tak akan mungkin bisa menolong Al-Houthi dalam bertahan menghadapi koalisi terang-terangan Arab Saudi-Negara Teluk-AS.

Tak disangka, operasi yang menguras kas negara Saudi itu ternyata mendapatkan perlawanan yang sangat sengit. Setelah 19 bulan berlalu (Arab Saudi pertama kali membombardir Yaman bulan Maret 2015), situasi bukannya menguntungkan Saudi, melainkan malah berbalik ke arah milisi Al-Houthi. Milisi bermazhab Syiah Zaidiah ini malah terlihat semakin kuat. Keberhasilan mereka melontarkan rudal balistik Al-Burkan-1 dengan sasaran kota Jeddah menunjukkan bahwa alih-alih melemah, milisi itu justru makin kuat.

Kini, situasi telah berbalik. Warga Arab Saudi kini malah dilanda ketakutan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Logika yang beredar di tengah-tengah masyarakat, jika Jeddah saja mampu dijangkau oleh rudal, kota-kota lain tinggal menunggu giliran. Meskipun faktanya belum tentu demikian (yaitu bahwa Al-Houthi mampu menjangkau seluruh titik di Arab Saudi), rumor ini sudah cukup untuk memicu kepanikan; dan kepanikan bisa saja menciptakan instabilitas dalam negeri.

Ada dua pilihan yang bisa diambil  oleh Arab Saudi. Pertama, menghentikan operasi militernya, karena ternyata operasi militernya ini menunjukkan gelagat kegagalan. Atau, opsi kedua, meneruskan petualangan militernya itu dengan berharap kepada adanya dukungan internasional. Artinya, Arab Saudi bisa saja berharap mampu menjadikan insiden hantaman rudal balistik ini untuk menggalang dukungan internasional.

Tampaknya, opsi kedua itulah yang diambil. Sayangnya, upaya menggalang dukungan itu dilakukan dengan cara berbau fitnah yang sangat jauh dari etika dan logika. Saudi menebar isu bahwa rudal tersebut sebenarnya diarahkan ke kota suci Mekah, namun berhasil “dirontokkan” oleh sistem pertahanan anti rudal Arab Saudi, sehingga akhirnya jatuh di Jeddah. Sangat jelas sekali opini yang hendak dibentuk. Arab Saudi berharap akan muncul simpati dari kaum Muslimin dunia, karena saat ini, negara itu sedang memerankan diri sebagai penjaga kesucian kota Mekah.

Seperti biasa, media-media internasional yang selama ini ikut mem-back up Arab Saudi ikut menyebarkan isu ini. Media-media Indonesia pun ada yang ikut menyebarkannya. Padahal, isu tersebut betul-betul menabrak logika yang paling sederhana sekalipun.  Jarak Mekah ke perbatasan Yaman itu sekitar 590 kilometer. Sedangkan jarak Jeddah ke perbatasan Yaman sekitar 662 km.  Dengan demikian, Jeddah itu 72 kilometer lebih  ke utara dibandingkan Mekkah.  Mungkinkah rudal itu membidik sasaran yang lebih dekat, tapi dicegat di tempat yang lebih jauh? Mungkinkah (sebagai ilustrasi), rudal yang ditembakkan dari Bandung, misalnya, dengan sasaran kota Purwakarta, tapi dicegat di kota Jakarta?

Upaya Arab Saudi ini tampaknya, alih-alih bisa menyelamatkan mereka, justru memperumit situasi yang ada. Sulit rasanya mendapatkan dukungan internasional dengan cara menebar kebohongan yang sangat jelas ini. Akibatnya, Arab Saudi akan semakin terperosok ke dalam lubang problema yang mereka ciptakan sendiri. (ot/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL