ghadTahun baru biasanya berarti pesta dan hiburan. Bagi sebagian kalangan, pemaknaan seperti ini dianggap hal yang negatif. Apalagi pesta dan hiburan hampir selalu berimpit dengan kemaksiatan. Tapi, tahun baru juga cukup sering dimaknai dengan hal yang positif, yaitu manakala perubahan waktu itu disertai dengan adanya keinginan dan tekad untuk melakukan atau mencapai sesuatu yang baru dan baik.

Resolusi di tahun baru adalah sesuatu yang sangat positif. Menetapkan target keberhasilan di masa depan adalah ciri manusia yang benar, karena menetapkan target berarti juga memikirkan langkah-langkah menuju ke arah perwujudan target tersebut. Ini berarti kita tidak menyerahkan nasib kita ke tangan orang lain. Kita berarti memutuskan bahwa nasib kita ada di tangan kita sendiri.

Dalam konteks agama Islam, memikirkan apa yang kita perbuat dan dihubungkan dengan apa yang akan kita peroleh di masa mendatang adalah ciri orang yang beriman dan bertakwa. Alquran sendiri menegaskan hal ini. Manusia mestinya memperhatikan dampak dari apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Wal tanzhur nafsun maa qaddamat li ghadin (Al-Hasyr: 18). Meskipun maksud “hari esok” pada ayat ini lebih ditujukan kepada hari Kiamat, tapi para ulama tidak menafikan bahwa ayat ini bisa juga digunakan sebagai landasan bimbingan terkait “hari esok di dunia”.

Bagi ummat Islam Indonesia, tantangan di tahun 2015 tentu tidak sedikit. Hal itu tidak terlepas dari situasi yang sudah terjadi selama tahun 2014 yang sudah kita tinggalkan. Dalam kehidupan politik, hingga kini, kita belum melihat munculnya pemimpin yang lahir dari “rahim” partai politik berbasis massa Islam. Yang muncul justru malah hal-hal yang memalukan. Sejumlah pemimpin partai berbasis massa Islam malah menjadi pesakitan gara-gara berbuat nista korupsi; sebuah kejahatan tak terperi yang amat mencoreng nama agama dan kaum Muslimin. Perpecahan di antara sesama tokoh dan kelompok Islam juga masih sangat parah. Mereka dengan sangat mudah dipecah belah oleh pihak luar.

Tantangan lainnya adalah kondisi laten mayoritas kaum Muslimin sebagai kaum yang lemah dan tertindas alias menjadi kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Kaum Muslimin di negeri ini masih digolongkan sebagai kaum yang lemah: lemah secara ekonomi, lemah secara intelektual, dan lemah dalam struktur sosial.

Tantangan yang paling besar sepertinya adalah kemunculan kelompok militan takfiri yang saat ini direpresentasikan oleh kelompok yang menyebut dirinya ISIS (atau IS). Selain menimbulkan teror dan perpecahan, kelompok-kelompok seperti ini, berikut berbagai derivasinya, jelas telah sangat mencoreng muka ummat Islam. Stigma buruk dan kasar langsung tersemat di muka kaum Muslimin lainnya akibat perilaku mereka. Muncul kesan seolah-olah, semua kaum Muslimin sama seperti mereka. Padahal, jumlah kelompok militan tersebut amat sangat kecil dan sangat tidak layak mempresentasikan kaum Muslimin secara keseluruhan.

Semoga di tahun 2015 ini, kaum Muslimin bisa menjadi lebih baik, karena sesungguhnya, adalah perintah agama bahwa kita memang harus lebih baik dibandingkan hari-hari yang sudah lewat. (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*