LiputanIslam.com – Ramadhan telah berlalu. Bulan yang dipenuhi dengan semerbak wewangian spirtual itu telah kita tinggalkan, dan akan kita kunjungi lagi tahun depan, jika Allah SWT mengizinkan kita untuk tetap menghembuskan nafas di dunia ini.

Ramadhan adalah bulan penempaan jiwa, dan kesempatan untuk meraup pahala sebanyak-banyaknya. Adanya malam terbaik, malam yang setara dengan seribu bulan (Lailatul Qadar), di bulan tersebut, menunjukkan bahwa Ramadhan adalah bulan terbaik bagi kaum Muslimin.

Selayaknyalah kita menjadikan Ramadhan sebagai target utama tahunan kita. Selayaknyalah bagi kita untuk melakukan hitung mundur (count-down), menatap Ramadhan di tahun depan. Maka, jika selama ini kita membuat resolusi untuk rencana-rencana hidup kita di tahun baru Masehi (1 Januari), agaknya resolusi di hari raya Idul Fitri akan lebih ideal bagi kaum Muslimin. Pertanyaan pentingnya adalah: apakah yang akan Anda lakukan, atau target apa yang Anda pancangkan, selama setahun ke depan, sehingga kita bisa memasuki Ramadhan dengan cara yang lebih baik lagi.

Rumusan resolusi terbaik ada hubungannya dengan makna Idul Ftri itu sendiri. Idul Fitri bermakna hari Raya untuk merayakan kembalinya kita kepada fitrah. Fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Karena ‘id sendiri bermakna “kembali”, maka makna lain dari Idul fitri adalah kembali ke fitrah, yaitu kembali ke asal, kembali sebagaimana dulu kita dilahirkan. Dulu kita lahir dengan dilengkapi fitrah keimanan, keyakinan pada adanya Allah. Namun seiring waktu, keyakinan itu tergerus hingga sebatas kepercayaan. Keyakinan akan meniscayakan akhlak yang superbaik, karena benar-benar merasa setiap saat dijaga, sekaligus diawasi oleh Allah SWT. Sebaliknya, orang yang hanya percaya pada Allah, cenderung sering lupa dan tergelincir pada berbagai perbuatan maksiat.

Puasa Ramadhan sejatinya adalah latihan untuk kembali ‘pulang’ kepada-Nya. Kembali meyakini keberadaan-Nya dengan segenap keyakinan. Kembali kepada akhlak yang baik, yang tidak sembarangan menebar hoax (baik sebagai pembuat atau penebar hoax, karena keduanya sama-sama buruk), karena ini adalah perilaku yang sangat dimurkai oleh Allah, dan akan berujung kepada jatuhnya siksa yang tak terkira menyeramkannya. Kembali kepada akhlak yang baik meniscayakan berkurangnya sifat sombong/takabur, ambisi politik duniawi, iri, riya, nifaq, bermulut kotor, menggampangnya dosa, dan segala perbuatan buruk lainnya.

Marilah kita ganti segala perilaku buruk tersebut dengan perbuatan-perbuatan baik. Mari kita perbanyak ajakan cinta dan kedamaian, hanya menyampaikan hal-hal yang benar dan jujur, menjauhi karat bendawi dan kotoran duniawi, serta menebarkan Islam yang rahmatan lil-‘alamin, agar Allah SWT ridha dan Rasulullah SAW pun tersenyum kepada kita semua.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Redaksi Liputan Islam mengucapkan Selamat Idul Fitri 1438 H, mohon maaf lahir batin. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan para hamba yang kembali ke fitrah sebagai resolusi selama setahun ke depan. (editorial/LiputanIslam.com/ot)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL