LiputanIslam.com –Akhirnya, Prabowo dan Jokowi bertemu pasca pergelaran pemilu yang sangat menguras energi dan emosi bangsa ini. Segera setelah pertemuan itu, tensi politik relatif mereda. Ada suasana yang kondusif untuk merajut kembali anyaman persatuan bangsa yang sempat tercerai-berai gara-gara pilihan politik pada pilpres lalu.

Memang masih ada sejumlah pihak yang terus mempertahankan narasi kebencian yang dibalut dengan nada kritikan. Sejumlah kalangan Islam juga masih terus mempertahankan narasi tersebut atas nama tuntutan penegakan keadilan, melawan kecurangan, serta amar makruf nahi munkar.

Dalam konteks kebangsaan kita, pemilu adalah hal yang sangat penting. Secara teoretis, event pemilu dipandang sebagai salah satu upaya untuk memperkuat sistem kenegaraan, dan diharapkan akan mencegah terjadinya kerusakan. Sistem demokrasi yang adil dan transparan tentu saja jauh lebih baik (dan harus dipilih) daripada sistem diktatorisme dan tiranisme. Dalam ajaran Islam, mencegah kerusakan (munculnya diktatorisme dan tiranisme) hukumnya wajib.

Di sisi lain, karena pemilu itu selalu saja memunculkan rivalitas yang keras, maka persaingan yang terkadang dibarengi dengan narasi saling menyerang adalah hal yang tak terhindarkan. Hal ini, sangat mungkin juga akan berdampak buruk bagi integrasi bangsa. Padahal, di sisi lain, disintegrasi bangsa adalah salah satu bentuk kerusakan lain. Adalah menjadi kewajiban ummat Islam untuk mencegahnya. Dalam ajaran Islam, mencegah disintegrasi bangsa hukumnya juga wajib.

Karena itu, terjadinya rekonsiliasi yang ditandai oleh pertemuan Jokowi dengan Prabowo adalah hal yang sangat positif. Ini adalah pertemuan yang bisa meredakan tensi ketegangan yang mengancam integrasi bangsa. Kekalahan Prabowo secara nasional, padahal di sisi lain Prabowo menang telak di sejumlah kawasan Muslim semisal Aceh, sempat memunculkan wacana dilakukannya referendum di kawasan itu. Kita juga bisa mengasumsikan, seandainya Prabowo yang menang secara nasional, sangat mungkin muncul wacana separatis di tempat-tempat di mana Jokowi unggul telak (misalnya di Bali atau Papua).

Untungnya itu tidak terjadi. Dengan segala macam tekanan yang sangat kuat di akar rumput, persatuan dan kesatuan kita masih bisa terjaga. Kedua tokoh yang berhasil maju sebagai capres dalam pemilu lalu sudah bertemu, dan keduanya sama-sama menyerukan kepada semua pendukungnya untuk melupakan persaingan, serta menjaga persatuan.

Setelah rekonsiliasi politik ini terjadi, menjadi tugas pemerintahan terpilih untuk melaksanakan janji-janjinya. Juga, menjadi tugas kita semua, seluruh rakyat Indonesia untuk tetap mengawasinya. Terpilihnya Jokowi-Makruf Amin tidak bermakna bahwa keduanya mendapatkan cek kosong dari rakyat Indonesia. Keduanya tentu saat ini sedang mengemban amanah yang sangat berat, amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada rakyat Indonesia, melainkan juga kepada Allah SWT.

Bagi para pendukung Jokowi-Makruf, tugas mereka juga belum selesai. Memilih bukanlah akhir dari tugas sebagai rakyat. Mereka masih tetap harus membantu, mendukung, dan mengawasi kinerja pemerintahan terpilih. Adalah menjadi kewajiban moral para pendukung Jokowi-Makruf untuk membuktikan bahwa pilihan mereka tidaklah keliru; dan bahwa apa yang dulu dituduhkan oleh rival politik sebagai kelemahan Jokowi-Makruf sebagai tuduhan dan kekhawatiran yang keliru. (os/editorial/liputanislam)

Baca:
Jokowi dan Prabowo Bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus

PBNU Minta Segera Ada Rekonsiliasi Pasca Pengumuman KPU

Pasca Pemilu, PP Muhammadiyah Serukan Rekonsiliasi Nasional

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*