lautEditorial-LiputanIslam.com–Ada dua peristiwa menarik yang terjadi pekan lalu, yaitu kemenangan hafidz cilik asal Indonesia, Musa, dalam kompetisi hafalan Quran di Sharm el Sheikh, Mesir, dan Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (KTT OKI) ke-13 di Istanbul, Turki. Kemenangan Musa, tak perlu disangsikan lagi, adalah kebanggan buat bangsa Indonesia. Namun, bukan Musa yang ingin kami bahas dalam editorial kali ini, tapi mengenai kompetisi tersebut. Ternyata, kompetisi yang diadakan oleh Kementerian Wakaf Mesir itu tidak mengundang tiga negara: Iran, Turki, dan Qatar. Alasannya, seperti dilansir situs iqna.ir, adalah alasan politik.

Sementara itu, di KTT OKI, Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry, dalam serah terima jabatan ketua periodik OKI dari Mesir kepada Turki, menolak berjabat tangan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan maupun dengan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu. Shoukry langsung turun dari panggung segera setelah menyerahkan jabatan ketua kepada pejabat Turki, tanpa berjabat tangan dengan Erdogan dan Cavusoglu.

Erdogan pun juga enggan berjabat tangan dengan Shoukry. Sebab, setelah Shoukry turun meninggalkan podium usai menyampaikan pidatonya selaku ketua periodik OKI sebelumnya, Erdogan naik ke panggung dari arah lain sehingga menimbulkan kesan bahwa dia sengaja memilih arah itu demi menghindari jabat tangan dengan Shoukry.

Kedua kejadian ini merupakan contoh kecil betapa persatuan di antara negara-negara Islam sangat lemah. Bahkan dalam sebuah kompetisi Quran (kitab suci satu-satunya bagi seluruh muslim sedunia), masih ada penjegalan. Bahkan dalam ‘organisasi kerjasama’ (OKI) masih ada permusuhan.

Lebih absurd lagi, KTT OKI di Istanbul justru mengeluarkan pernyataan mengecam aksi Hizbullah yang menurut mereka “mendukung terorisme dan menyebabkan ketidakstabilan di wilayah Timur Tengah”. Ini tentu pernyataan menggelikan. Siapakah yang sebenarnya teroris? Bukankah yang sudah menimbulkan kerusakan maha dahsyat di Suriah dan Irak adalah ISIS dan Al Qaeda (dan kelompok-kelompok teroris dengan berbagai nama lain). Dan sudah bukan rahasia lagi bahwa kelompok-kelompok teroris itu didanai oleh Turki, Arab Saudi, Qatar, dan beberapa negara Arab lainnya. Mengapa Hizbullah yang berjuang menahan masuknya para teroris ke dalam wilayah Lebanon (dan melawan agresi Israel), yang disebut teroris? Mengapa negara-negara Arab (dan Turki) justru mengarahkan permusuhan dan perang kepada negara sesama muslim, bukannya kepada Israel, yang jelas-jelas menjajah Palestina dan penyebab utama konflik Timur Tengah?

Kondisi umat Islam saat ini persis seperti yang diprediksikan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda, “Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”

Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?”

Rasulullah SAW menjawab, “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.”

Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?”

Jawab Rasulullah SAW, “Kerana ada dua penyakit, iaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.”

Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?”

Rasulullah SAW bersabda: “Cintakan dunia dan takut akan kematian.”

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL