LiputanIslam.com –Salah satu pesan moral paling penting diturunkannya kewajiban puasa di bulan Ramadhan adalah soal kepedulian kita terhadap sesama. Puasa yang secara sederhananya bermakna menahan rasa haus dan lapar selama seharian semestinya mengingatkan kita kepada momen-momen kehausan dan kelaparan yang pernah kita alami dan yang sangat mungkin akan kita alami.

Jika momen itu terkait dengan yang pernah kita alami, ingatan itu sangat berguna dalam rangka membuat kita semakin menjadi orang yang bersyukur, karena hidup kita saat ini sudah menjadi lebih baik. Lebih jauh lagi, ingatan tersebut mestinya mendorong kita untuk mempertebal kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang saat ini sedang didera beragam penderitaan.

Kemiskinan dan kezaliman adalah fenomena yang semakin merajalela. Sungguh sangat memprihatinkan manakala kita menemukan fakta bahwa jumlah kaum Muslimin yang didera kemiskinan, kelaparan, dan penderitaan masih sangat banyak. Puluhan tahun lamanya jutaan warga Palestina terlunta-lunta menjadi pengungsi dan hidup dalam kemiskinan. Mereka yang tinggal di kawasan pendudukan tak pernah merasakan ketenangan dalam hidupnya. Hari ini bisa makan, entah dengan esok lusa. Jika sanak keluarga bepergian ke luar rumah (bekerja untuk ayah atau anak-anak yang pergi ke sekolah), tak pernah ada jaminan bahwa mereka akan kembali pulang ke rumah dengan selamat. Bahkan, tinggal di rumah pun bukan merupakan jaminan. Setiap saat, rumah mereka bisa saja menjadi sasaran serangan roket serdadu Zionis Israel.

Kini, Trump secara sepihak menyatakan Al-Quds sebagai ibukota Israel. Kedutaan Amerika pun sudah resmi pindah ke sana. Lalu, protes keras warga Gaza dihadapi moncong senjata. Ratusan nyawa saudara-sudara kita pun melayang sebagai syuhada. Dan ingat, itu terjadi manakala di belahan dunia lain, kaum Muslimin menyantap hidangan berbuka dengan suka cita.

Di banyak tempat di Irak dan Suriah, situasinya juga tidak lebih baik dibandingkan dengan kawasan Palestina. Sudah bertahun-tahun lamanya warga Irak dan Suriah dicekam oleh keganasan teroris ISIS dan berbagai kelompok jihad palsu lainnya (yang notabene adalah buatan Amerika). Keganasan kelompok-kelompok radikal ini juga membuat bulu kuduk semua orang merinding. Penderitaan mereka (kehausan, kelaparan, dan ketidakpastian masalah keamanan) tentulah jauh berlipat-lipat dibandingkan dengan “penderitaan puasa” kita yang tak seberapa.

Sayangnya, pesan moral puasa itu sepertinya terabaikan. Jutaan kaum Muslimin melaksanakan ibadah puasa. Tapi, rasa haus dan lapar yang dirasakan tidak mengusik nurani mereka untuk bersikap peduli terhadap saudara sesama. Palestina, Irak, Suriah, dan juga Yaman, dikelilingi oleh negara-negara Arab Muslim yang kaya raya. Mereka hidup bermewah-mewahan, menghamburkan jutaan dolar untuk membeli kenyamanan diri sendiri.

Lebih buruk dari itu, mereka, para syeikh yang kaya raya itu, malah menjadi salah satu faktor terciptanya penderitaan kaum Muslimin. Dulu, kebangkitan para pejuang Muslim yang hendak melawan rezim Zionis yang baru saja berdiri, dihalang-halangi oleh rezim keluarga Saudi yang berkuasa di Saudi Arabia. Sejarah mencatat bahwa rezim Saudi-lah yang mendesak kelompok-kelompok perjuangan untuk meletakkan senjata dan meminta mereka agar menyerahkan penyelesaian atas apa yang disebutnya sebagai “konflik Israel-Palestina” (padahal, itu bukan konflik, melainkan penjajahan satu entitas atas entitas lainnya) kepada Amerika dan Inggris. Ini seperti menyerahkan masalah keamanan kepada maling.

Kemudian, Arab Saudi memberlakukan pelarangan membicarakan nasib kaum Muslimin dunia (termasuk nasib bangsa Palestina) bagi para peziarah haji. Padahal, itulah momen yang sangat tepat, ketika jutaan ummat Islam di seluruh dunia berkumpul, menyatakan kebesaran Allah, keagungan Islam, serta perang terhadap kemunafikan, kemusyrikan, dan kekufuran.

Arab Saudi pula yang ikut mensponsori berdirinya Al-Qaeda, lalu kemudian berkembang menjadi ISIS. Bersama Amerika dan negara-negara Barat lainnya, mereka ciptakan kelompok-kelompok intoleran garis keras yang kemudian meluluhlantakkan berbagai kawasan Islam di Timur Tengah, dan menambah besar penderitaan kaum Muslimn. Kita yang di Indonesia juga ikut merasakannya.

Semoga Ramadhan tahun ini memberikan kebaikan kepada kita semua, di tengah tantangan kemunafikan yang merajalela di sekitar kita. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*