Din-syamsuddinKita tentu masih merasa kehilangan sosok teduh, jenius, bijak, dan rendah hati pada diri KH Sahal Mahfudh. Akan tetapi, segala sesuatu memang pasti berubah, dan generasi pasti berganti. Setelah KH Sahal Mahfudh tiada, kita sekarang melihat sosok jenius dan bijak lainnya yang duduk di lembaga Majelis Ulama Indonesia Pusat. Sejatinya, kita semua pasti sudah mengenal dengan baik Profesor Din Syamsuddin. Jejak aktivitasnya sangat jelas, dan semuanya mengundang pujian; sejelas dan seterpuji ormas yang dipimpinnya: Muhammadiyah.
Lembaga ini dikenal dengan enlightment-nya; begitulah biasanya anggota organisasi ini mendefinisikan dirinya. Ketercerahan ini menjadi menjadi identitas yang sangat mereka banggakan. Intelektualitas yang digabung dengan amal saleh adalah sesuatu yang melekat pada jiwa Muhammadiyah. Kini, salah satu putera terbaik Muhammadiyah duduk di pucuk pimpinan Majelis Ulama Indonesia Pusat. Kita boleh menduga atau malah berharap, warna apa yang akan dibawa Prof Din saat memimpin MUI Pusat.
Profesor Din adalah penerus Sang Pencerah. Tentu yang kita harapkan (atau lebih tepatnya: kita duga), ketercerahan itulah yang akan dibawa oleh beliau. Akal dan hati dikedepankan, demi mencampakkan hawa nafsu dan karat syahwat duniawi.
Beberapa tahun terakhir ini, kehidupan beragama di Indonesia terasa agak menyesakkan dada. Dan sayangnya, MUI dikait-kaitkan terlibat dalam masalah ini. Hal itu bisa dilihat dari berbagai peristiwa penyerangan terhadap kelompok minoritas agama di Indonesia. Ghirrah untuk membela agama Islam dari faham-faham yang sesat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melakukan tindakan penistaan dan teror. Semua dilakukan sambil mencampakkan etika dan intelektualitas. Sayangnya, itu dilakukan sambil mengatasnamakan MUI. Sebagai contoh, akhir-akhir ini disebarluaskan secara gratis buku tentang kesesatan Syiah, yang di sampulnya tertera logo MUI Pusat. Meski tak ada pengakuan resmi itu buku MUI, namun juga tak dikeluarkan pernyataan resmi dan penolakan atas dipasangnya logo MUI. Muruwwah lembaga seterhormat MUI betul-betul dicederai oleh sebuah buku kecil yang betul-betul melabrak pilar-pilar etika dan ilmu.
Kita sangat percaya bahwa itu adalah perilaku oknum internal MUI yang jumlahnya sangat kecil. Kita juga sangat percaya bahwa Profesor Din akan membawa aura intelektualitas dan etika saat memimpin MUI. Kita juga tidak perlu ragu terkait dengan ketegasan Profesor Din dalam menjalankan amanahnya.
Selamat bekerja, Prof. Allah yukatstsir amtsaalakum (Mudah-mudahan Allah memperbanyak orang-orang seperti Anda)
DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL