LiputanIslam.com – Sosok Arab Saudi, dalam beberapa tahun terakhir ini, makin dirasakan oleh publik internasional sebagai rezim yang amat buruk. Masyarakat dunia saat ini sedang menantikan ujung dari kasus kematian Adnan Khashoggi, jurnalis Arab Saudi yang terbunuh di Konsulat Arab Saudi di Turki.

Sensasi kematiannya sangat luar biasa. Ia dibunuh di luar negeri, dan pembunuhnya adalah aparat pemerintahannya sendiri. Hal ini saja sudah menciptakan kehebohan. Bayangkan jika ada warga asing yang tewas di Indonesia, dan tempat kejadiannya adalah kedubes negara asal orang yang tewas itu; dan pembunuhnya adalah aparat pemerintahan negara tersebut. Tentulah hal tersebut akan menciptakan kehebohan bagi publik Indonesia.

Kasus ini semakin menciptakan kehebohan karena ada indikasi kuat bahwa proses pembunuhannya terjadi dengan amat keji. Khashoggi terindikasi kuat dibunuh dengan cara dimutilasi (digergaji), dan jenazahnya dihilangkan. Mungkin dilarutkan ke dalam cairan kimia. Yang pasti, hingga kini, tak ada keterangan yang bisa diperoleh soal di mana jenazah Khashoggi. Pemerintah Arab Saudi, meskipun akhirnya mengakui bahwa Khashoggi terbunuh di gedung Konjen Arab Saudi, tapi enggan menunjukkan di mana jenazah Khashoggi sekarang.

Kemudian ada indikasi lainnya yang membuat masalah ini semakin sensitif, yaitu soal keterlibatan putera mahkota Pangeran Mohammad bin Salman (MbS) sebagai otak pembunuhan. Media-media Barat secara serempak memotret kasus kematian ini dalam konteks kritikan keras Khassoghi kepada berbagai kebijakan internasional MbS, termasuk soal perang Yaman yang telah meluluhlantakkan negara Arab yang miskin tersebut.

Dengan kematian Khashoggi itu, sorotan negatif masyarakat internasional terhadap rezim monarki Arab Saudi semakin meluas. Sebelum ini, Arab Saudi dikenal sebagai negara yang sangat tertutup, kaku, dan keras. Banyak kasus-kasus pelanggaran HAM yang dicatat oleh lembaga-lembaga HAM dunia, baik yang formal ataupun lembaga independen. Ditambah lagi dengan keterlibatan rezim ini dalam pembentukan dan pemberian dana kepada kelompok-kelompok teroris. Kalau saja tidak ada proteksi dari Amerika (seperti yang dikatakan secara terus terang oleh Donald Trump), Arab Saudi tak akan bertahan lebih dari dua pekan.

Bagi masyarakat Indonesia, Arab Saudi juga punya wajah yang buruk, khususnya yang terkait dengan nasib para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di sana. Kita sudah sangat sering mendengar kasus-kasus pelecehan dan penindasan yang dialami saudara-saudara sebangsa kita oleh para majikan Arab Saudi. Ada kesan sangat kuat bahwa warga Indonesia dipandang oleh orang-orang Arab Saudi sebagai manusia kelas rendahan. Para TKW kita diperlakukan hampir menyerupai budak. Sebagian dari mereka, ada yang pulang dalam keadaan hamil, atau menggendong anak bayi, hasil hubungan gelap (atau malah pemerkosaan) dengan majikannya.

Dalam kondisi penegakan hukum di Arab Saudi yang sulit disebut transparan dan adil, saudara-saudara kita juga berkali-kali menjadi korban kesewenang-wenangan para penegak hukum di negara Petro Dolar itu. Dalam kasus terbaru, buruh migran Indonesia, Tuti Tursilawati, dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi pada Senin, 29 Oktober 2018. Tuti dieksekusi mati tanpa ada pemberitahuan resmi kepada pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia secara resmi menunjukkan kemarahannya dengan melayangkan nota protes dan memanggil Dubes Arab Saudi untuk Indonesia.

Tuti menjadi satu dari ratusan orang yang dieksekusi mati oleh pemerintahan Arab Saudi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Tahun 2015 lalu, lembaga Human Rights Watch melaporkan lebih dari 150 orang telah dieksekusi di Arab Saudi. Tahun berikutnya, jumlah yang dieksekusi menjadi ada 133 orang, dan kira-kira di kisaran itu pada tahun-tahun berikutnya.

Khashoggi dan Tuti adalah potret kelam kejamnya rezim Saudi Arabia. Di balik gelar Khadimul Haramain (Pelayan Dua Haram), wajah asli dari rezim Saudi sangat jauh dari gelar yang mereka sandang. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*