setanAda fenomena baru yang menarik dari pilpres Amerika Serikat tahun ini. Kemunculan Donald Trump sebagai kandidat dari Partai Republik memunculkan hal-hal yang kontroversial. Sejak awal, dia tidak menyembunyikan kebenciannya kepada kaum imigran. Secara khusus, kebenciannya itu ia tunjukkan kepada kaum Muslimin. Belum pernah sebelumnya ada kandidat presiden AS yang menunjukkan kebencian kepada Muslimin seterang-benderang ekspresi dari Trump.

Sisi unik lainnya dari Trump adalah latar belakangnya sebagai selebritas flamboyan penyuka hedonitas dan amoralitas.  Sisi buruk inilah yang dieksploitasi sang rival, Hillary Clinton, selama kontestansi debat capres. Akan tetapi, sebagai reaksi balik, Trump juga mengungkit sisi  gelap amoralitas mantan presiden Bill Clinton yang dulu sempat terungkap ke publik, seperti kasus pelecehan seksual sang presiden terhadap Monica Lewinsky. Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah kepresidenan AS, saat itu (setelah melakukan penyangkalan) Bill Clinton akhirnya mengakui bahwa ia pernah memiliki hubungan yang tak patut (“inappropriate” relationship) dengan Lewinsky

Maka, berhamburanlah kata-kata tak senonoh, umpatan yang kasar, serta sikap sarkastik yang tidak beradab. Sungguh menjadi hal yang sangat membuat kita semua prihatin manakala kita tahu bahwa hal-hal itu muncul dalam sebuah forum paling terhormat dalam sistem kenegaraan AS, yaitu di saat rakyat negara itu harus memilih seorang pemimpin tertinggi. Ditambah lagi dengan fakta bahwa AS sampai saat ini masih digembar-gemborkan sebagai “role mode” bagi penyelenggaraan ketatanegaraan yang ideal bagi seluruh masyarakat dunia.

Dengan posisi AS seperti ini, selama event pilpres, pertanyaan tentang “siapa yang terbaik yang harus terpilih” tidak hanya ditujukan kepada rakyat AS, melainkan juga kepada warga negara lain. Nah, jika kita juga ditanya: siapakah di antara Trump dan Clinton yang sebaiknya terpilih, bagaimanakah jawaban kita?

Menilik kapasitas moral masing-masing pihak, dan juga track record keduanya dalam bersikap terhadap dunia Islam, rasanya sulit bagi kita untuk menentukan mana yang sebaiknya terpilih. Kesulitan pemilihan di antara keduanya itu bukan karena keduanya adalah calon terbaik, tapi justru calon-calon yang buruk.

Manakah yang harus dipilih: Trump yang punya skandal seksual sangat terang benderang, atau Hillary yang berupaya keras menyangkal dan menyembunyikan skandal seksual suaminya (yang ternyata akhirnya terbukti di pengadilan)? Pilihan yang sulit bukan?

Atau, makanah yang Anda pilih: Trump yang bersumpah akan mengusir imigran Muslim atau Clinton yang bertanggung jawab atas krisis di Mesir, kehancuran Lybia, serta krisis di Suriah (dan juga Irak dan Yaman)?

Manakah yang Anda pilih di antara dua kandidat yang sama-sama telah telah bersumpah untuk menjaga dan mengutamakan kepentingan Israel? Manakah di antara keduanya yang lebih baik, manakala keduanya sama-sama menganggap para pejuang Palestina sebagai teroris? Manakah di antara keduanya yang harus kita pilih, manakala eksploitasi atas kekayaan besar bangsa Indonesia oleh perusahaan multinasional milik AS akan terus saja terjadi, siapapun yang menjadi presiden AS?

Memilih satu di antara keduanya seperti memilih salah satu di antara dua tanduk setan. Presiden Iran Hassan Rouhani menyampaikan bahwa memilih di antara keduanya sama saja seperti memilih yang buruk di antara yang terburuk. Kita yakin bahwa itulah pula pandangan kaum Muslimin Dunia. Wallahu a’lam. (editorial/liputanislam/ot)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL