LiputanIslam.com – Sebagian besar peziarah Arbain sudah meninggalkan kota Karbala, Irak. Jutaan peziarah yang berasal dari Irak telah kembali ke kota masing-masing. Demikian juga dengan peziarah dari Iran, yang berdasarkan data imigrasi Iran jumlahnya diperkirakan lebih dari 3 juta orang, telah kembali ke negaranya. Adapun peziarah asing lainnya, sebagian ada yang masih berziarah ke beberapa tempat ziarah yang ada di Irak. Sebagiannya lagi ada yang menuju Iran untuk tujuan berziarah ke kota Mashad dan Qom.

Berbagai berita dan liputan menggambarkan betapa para peziarah asing tersebut sangat terkesan dengan kunjungan mereka ke Irak di hari Arbain tersebut. Terlebih bagi mereka yang berziarah untuk kali pertama. Mereka rata-rata menyatakan ketakjubannya atas magnet kuat Imam Husein yang mampu menciptakan euforia kecintaan pada belasan juta orang, hingga mereka mau melakukan perjalanan kaki sepanjang 80 kilometer Najaf – Karbala. Sebagian lainnya malah berjalan kaki dari kota yang lebih jauh lagi.

Pada hari-hari menjelang Arbain itu, kita bisa menyaksikan gelombang barisan manusia yang memanjang tiada putus sepanjang 80 kilometer. Mereka dipersatukan oleh kecintaan kepada Imam Husein, yang mereka yakini telah memberikan contoh hidup yang mulia, yaitu kesiapan untuk berkorban ketika harus berjuang menghadapi kezaliman.

Para peziarah itu datang dari Georgia, Australia, Jerman, Arab Saudi, Indonesia, Turki, Malaysia, Singapura, Cina, Pakistan, India, Bangladesh, Thailand, Perancis, Amerika, dan negara-negara lainnya. Mereka juga sangat terkesan sekaligus mengapresiasi pelayanan yang diberikan masyakarat Irak kepada para peziarah.

Sebagaimana yang diberitakan oleh berbagai sumber, pelayanan kepada jutaan peziarah itu dilakukan secara sukarela atas inisiatif warga Irak. Sebagian besar dari mereka bekerja sebelas bulan dalam setahun, dan hasil dari pekerjaan itu ditabung agar bisa memberikan pelayanan kepada para peziarah di momen Arbain. Semua pelayanan, mulai dari makanan, penginapan, hingga pelayanan medis diberikan secara gratis kepada para peziarah yang rata-rata berada di Irak selama 3 – 5 hari.

Mereka menyediakan posko-posko (Mokeb) pelayanan peziarah Arbain di berbagai sudut kota Karbala dan sepanjang rute perjalanan yang dilalui peziarah dari kota Najaf ke Karbala. Selain warga Irak, tim medis dari beberapa negara seperti Iran, Pakistan, Arab Saudi, dan Indonesia juga menyediakan posko-posko kesehatan dan menyiapkan puluhan dokter dan perawat untuk melayani peziarah yang sakit.

Arbain adalah peringatan mengenang 40 hari Kesyahidan Imam Husein, cucu Baginda Nabi Muhammad SAW yang tewas di tangan pasukan Yazid dari Bani Umayyah, yang dikenal dengan peristiwa Asyura. Peristiwa Asyura terjadi di Karbala pada tanggal 10 Muharram 61 H. Momen 40 hari pasca peristiwa diperingati karena di hari keempat puluh pasca kematian Imam Husein itulah keluarga dan sahabat Imam Husein berhasil mendatangi dan berziarah ke tempat pembantaian Imam Husein. Peringatan momen Arbain diyakini telah memberikan spirit perjuangan dan pengorbanan kepada jutaan orang sepanjang sejarah. Arbain menunjukkan bahwa setiap pengorbanan di jalan yang benar pasti akan akan dikenang.

Momen Arbain dari tahun ke tahun selalu menorehkan kesan mendalam bagi para peziarah. Aura cinta kepada kebaikan, dan kemarahan kepada kezaliman sangat dirasakan oleh para peziarah. Pelayanan yang ramah dan tulus dari warga Irak, atas nama kecintaan kepada Imam Husein, makin memberikan kesan luar biasa. Sayangnya, momen yang sangat kolosal ini tak pernah sekalipun diliput oleh media-media mainstream dunia. Kita tentu tahu alasannya. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*