LiputanIslam.com –Ketika pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi dinyatakan tewas, publik dunia kebanyakan bersikap skeptis. Tak ada sambutan kegembiraan atas pengumuman AS terkait kematian Al-Baghdadi tersebut.

Ada sejumlah hal yang bisa menjelaskan sikap skeptis tersebut. Alasan pertama, ada yang yang memang meragukan kebenaran berita tersebut. Bukan apa-apa. Dalam beberapa dekade terakhir ini, AS dikenal sebagai tukang pembuat hoax alias pembual. Ada skandal Nayirah yang merekayasa kebohongan tentang bayi-bayi yang dilempar dari inkubator sehingga memicu Perang Teluk tahun 1991. Lalu, ada juga skandal kebohongan senjata biologis dan kimia yang memicu invasi pasukan koalisi ke Irak tahun 2003.

Alasan kedua terkait dengan fakta bahwa AS berada di balik pembentukan kelompok teroris mematikan tersebut. Pengakuan para politisi AS ketika mereka saling serang dalam konteks rivalitas politik nasional mereka menjadi bukti yang tak terbantahkan.  Jadi, seandainya Al-Baghdadi memang tewas di tangan tentara AS, itu bukanlah prestasi yang hebat mereka. Kematian Al-Baghdadi adalah soal “kaki-tangan” yang sudah kadaluarsa dan tak lagi berguna sehingga sudah selayaknya dibuang begitu saja.

Alasan ketiga, publik dunia menjadi skeptis karena merasa khawatir bahwa pasca kematian Al-Baghdadi tersebut, AS kembali akan menciptakan monster teroris baru, entah dengan nama apa serta dipimpin oleh siapa. Bahkan bisa jadi monster baru itu akan lebih menakutkan dan lebih destruktif dibandingkan dengan ISIS. Bukankah ISIS yang merupakan metamorfosis dari Al-Qaeda itu ternyata lebih mematikan dibandingkan organisasi teroris pendahulunya?

Kekhawatiran ketiga ini sepertinya memang mendekati kenyataan. Baru-baru ini, Sekretaris Jenderal “Harakah Injaz” (Gerakan Pencapaian) yang berbasis di Irak, Baqir al-Zubaedi, mengungkapkan bahwa AS dan Israel berencana membentuk aliansi teroris besar baru di delapan negara, yaitu Afghanistan, Cechnya, Yaman selatan, Afrika, Suriah, Irak, Libanon, dan Arab Saudi . Rekruitmen dilakukan atas para perwira pembelot Suriah dan para eks-perwira militer mantan diktator Irak mendiang Saddam Hossein.

Menurut Al-Zubaedi,  13.000 orang ISIS yang berada di penjara-penjara Suriah juga akan direkrut untuk tujuan ini. Bagaimanapun juga, penjara-penjara tersebut sampai sekarang masih berada di bawah pengawasan AS. Jadi, nasib para tahanan itu sepenuhnya berada di tangan AS, entah diekseskusi, dibebaskan, atau direkrut untuk tujuan-tujuan tertentu.

Selain para tawanan itu, rekruitmen juga akan dilakukan terhadap 50.000 anggota Jabhat al-Nusra , 60.000 Pasukan Nour al-Din al-Zenky, serta 25.000 anggota Jaish al-Hur. Mereka adalah kelompok teroris yang berhasil kabur dari Suriah dan belakangan ini telah mendapatkan status warga negara Turki. Mereka semuanya beraliran Salafi/Wahhabi.

Seandainya informasi ini memang benar adanya, Dunia tentu akan segera menyaksikan sebuah pementasan tragedi lain dengan AS kembali sebagai aktor intelektualnya. Negara-negara tersebut tentu akan menanggung beban kemanusiaan yang lain. Hanya saja, berkaca dari apa yang sudah dilakukan AS beberapa dekade terakhir ini, langkah-langkah poenuh dengan intrik, kecurangan, dan rekayasa seperti ini hanya akan membuat AS semakin terpuruk. Konsistensi perilaku AS yang sangat jahat itu hanya akan mempercepat kejatuhan “imperium” AS atas dunia. Sejarah telah menunjukkan hal tersebut.

Sebagai ummat Islam, kita percaya bahwa sunnatullah tak akan pernah berubah. Siapa saja yang berulah jahat dan melawan nilai-nilai kemanusiaan pada akhirnya terjerembab jatuh dan terhina. Petualangan baru AS ini tak lain adalah sebuah pengulangan kesalahan yang lain. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*