Israeli-Saudi-AllianceSetelah melakukan perundingan super alot bertahun-tahun, Iran dan enam negara besar dunia (5+1) akhirnya menandatangani sejumlah butir kesepakatan terkait dengan program nuklir Iran. Di Vienna, Austria, akhirnya para delegasi dari pihak Iran di satu sisi dan AS, Rusia, Inggris, Perancis, Jerman, serta Tiongkok di sisi lain, mengakhiri perundingan dengan kesepakatan.

Siapa yang paling diuntungkan dengan kesepakatan tersebut? Semua tentu bisa berteori dan mengajukan analisis. Masing-masing pihak tentunya boleh-boleh saja mengklaim bahwa pihak merekalah yang paling diuntungkan dengan kesepakatan tersebut.

Barat menganggap bahwa kesepakatan Vienna tersebut adalah bukti nyata keberhasilan mereka dalam “menjinakkan” Iran dari ambisinya untuk memproduksi senjata nuklir. Iran yang selama ini sedemikian berbahayanya bagi keamanan regional, akhirnya bisa “dimandulkan” setelah Teheran bersedia menghentikan proyek senjata nuklirnya. Sebagai kompensasinya, segala bentuk sanksi yang dijatuhkan terhadap Iran oleh AS, Uni Eropa, dan PBB akhirnya dicabut.

Adapun di Iran, kesepakatan tersebut disambut dengan sukacita dan pawai kemenangan. Hampir semua faksi politik di dalam negeri menyebutnya sebagai tonggak baru bagi masa depan Iran yang lebih cerah. Bagi Iran, ini adalah sepenuhnya kemenangan Iran karena semua tuntutan Iran terkait dengan pencabutan sanksi ekonomi akhirnya betul dikabulkan. Sedangkan apa yang diklaim oleh Barat sebagai poin kemenangan Barat, yaitu ketundukan Iran yang akhirnya bersedia menghentikan proyek senjata nuklir, dianggap oleh Teheran sebagai klaim kosong. Bagi Iran, penghentian proyek senjata nuklir memang bukanlah tuntutan pihak Barat, dan juga bukan sesuatu yang diperjuangkan para juru runding Iran. Pada dasarnya, Iran memang mengharamkan senjata nuklir. Proyek nuklir tak lebih dari upaya untuk mengamankan cadangan energi di masa depan, ketika sumber energi fosil (minyak) betul-betul sudah habis.

Menarik untuk dicermati bahwa ada sejumlah pihak yang memaknai peristiwa ini dengan sudut pandang yang berbeda. Kalangan dalam negeri AS dan juga negara-negara sekutu negara adidaya tersebut, seperti Israel dan negara-negara Arab menyebut kesepakatan ini sebagai “malapetaka besar”.

Di dalam negeri AS, Barack Obama masih harus menunggu persetujuan Kongres. Jika Kongres sampai menyatakan penolakan atas hasil perundingan itu, ini akan menjadi preseden buruk bagi pemerintahan Obama dan Partai Demokrat. Kemungkinan ke arah itu memang sangat besar mengingat lobi-lobi politik kelompok Yahudi di AS secara bulat menentang kesepakatan nuklir dengan Iran tersebut. Alih-alih menyebutnya sebagai prestasi Obama, kalangan Yahudi malah menyatakan bahwa kesepakatan ini adalah musibah bagi Israel.

Reaksi keras berupa penentangan dari dalam negeri AS memang sejalan dengan reaksi yang datang dari sekutu-sekutu AS di Timur Tengah. Israel dan negara-negara Arab secara serempak menyatakan bahwa dicabutnya sanksi ekonomi atas Iran adalah ancaman besar. Secara formal, mereka menyatakan bahwa dicabutnya sanksi akan meningkatkan dukungan bantuan militer kepada pemerintahan Bashar Assad, Hezbollah di Lebanon, serta Houthi di Yaman.

Soal makin mesranya negara-negara Arab dengan Israel tampaknya makin tak bisa lagi ditutup-tutupi. Media-media Barat bahkan secara terang-terangan memberitakan telah terjadinya berkali-kali kontak antara para diplomat Arab Saudi dan Israel. Tampaknya, kesepakatan Vienna telah menciptakan peta politik baru di kawasan Timur Tengah. Aliansi antara dua pihak, yaitu Israel dan negara-negara Arab, yang selama ini dianggap aneh dan tabu, bisa jadi akan terwujud secara formal. Untuk sebuah kepentingan politik bersama, kenapa tidak? (editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL