sumber: irna

LiputanIslam.com – Sampai detik ini, posisi Indonesia terhadap Palestina masih tetap solid, yaitu mendukung kemerdekaan Palestina dan menolak penjajahan yang dilakukan oleh Rezim Zionis Israel. Tak begitu banyak perbedaan sikap antara rakyat dan pemerintah Indonesia soal Palestina. Di saat parade defile dalam Upacara Pembukaan Asian Games ke-18, pada tanggal 18 Agustus lalu, Kontingen Palestina disambut dengan sorak sorai dukungan oleh hadirin.  Sorotan kamera juga langung mengarah ke tribun kehormatan, di mana Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sedang melambai-lambaikan tangan ke arah Kontingen Palestina.

Palestina adalah bangsa yang terjajah, sedangkan Israel adalah kaum penjajah. Zionis Israel tak ubahnya seperti perampok yang mendatangi sebuah rumah, mengusir sebagian besar penghuni sah rumah, melakukan kezaliman/kejahatan terhadap sebagian penghuninya masih tersisa, dan itu dilakukan hingga hari ini. Anak keturunan dari perampok itu hingga kini melakukan kejahatan yang serupa, yaitu menindas anak keturunan dari penghuni rumah yang sah.

Fakta seperti inilah yang mencoba dikaburkan oleh Zionis Israel. Perilaku penjajahannya atas Palestina mencoba dikaburkan menjadi seolah-olah hanya pertikaian biasa. Baru-baru ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa perdamaian dengan Palestina dapat dilakukan melalui normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab.  Menurutnya pula, banyak negara Arab yang saat ini melihat Israel bukan sebagai musuh, melainkan sekutu yang sangat diperlukan untuk menekan agresi Iran.

Pernyataan Netanyahu ini merujuk kepada sikap hangat yang ditunjukkan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang mengisyaratakan perubahan dalam pendekatan negara. Menurut Mohammed, Israel seperti halnya Palestina, memiliki hak untuk tanah mereka sendiri.

Sungguh pernyataan yang absurd. Sekelompok perampok (yaitu Zionis) berbicara tentang upaya perdamaian dengan korban perampokan (yaitu Palestina). Caranya, harus diupayakan terciptanya hubungan yang baik dengan tetangga dari korban perampokan (yaitu Arab Saudi, Jordania, Mesir, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan negara-negara Arab sekutu lainnya). Cara seperti ini, menurut Netanyahu, akan efektif dalam rangka mencegah upaya tetangga lain yang merasa prihatin dan ingin membantu korban perampokan untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka atas rumah yang dijarah. Tetangga itu bernama Iran dan Suriah. Indonesia tentu saja adalah “tetangga jauh” yang juga memiliki keprihatinan serta sodiritas atas apa yang terjadi di Palestina.

Seiring dengan munculnya krisis Suriah yang menggoreng isu Sunni-Syiah, Israel punya momentum untuk merekatkan hubungan dengan negara-negara Arab. Momentum inilah yang sedang dioptimalkan oleh mereka. Tapi, tentu saja, upaya Israel tersebut sangat absurd dan menabrak akal sehat. Bagaimana mungkin Palestina yang menjadi korban penjajahan harus berdamai begitu saja dengan penjajah Zionis Isarel yang hingga kini, setiap hari, melakukan aksi-aksi keji terhadap Palestina?

Tentu saja yang lebih absurd dari itu adalah sikap dan perilaku sejumlah negara Arab yang mau-maunya berdamai serta berbaik-baikan dengan rezim penjajah. Mereka mau ikut dalam cara pandang dan skenario penjajah yang sebenarnya ingin melanggengkan penjajahannnya. Mereka mau-maunya dihasut untuk ikut bersama penjajah dalam berkonfrontasi melawan saudara sendiri, sesama Muslim. Padahal, yang dilakukan oleh sang saudara itu adalah membantu bangsa Palestina untuk meraih kembali haknya.

Kita bangsa Indonesia harus bersyukur bahwa paling tidak, kita masih berada di atas jalan yang benar. Kita masih bisa menjaga kewarasan akal kita. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*